Kumpulan Cerpen

SANG PRESIDEN

Oleh :

Lubna Shiba Agent/roswitahrp

Januari 2029

Ahmad Jaelani, Sang Presiden, sedang mengadakan halaqoh di istana kepresidenan bersama sepuluh orang sahabatnya yang menjabat sebagai mentri. Pertemuan kali ini dipergunakannya untuk membahas sepuluh tahun terakhir kepemimpinannya. Salah seorang dari mereka, ‘zero one, ZO’, selaku Mentri Kesejahteraan dan Kemakmuran Rakyat menyatakan bahwa program kerja berhasil dengan baik. Rakyat sudah tidak ada yang tidak makan. Yang buta huruf atau tidak sekolah. Yang dipekerjakan di usia sekolah maupun dieksploitasikan. Yang tidur di bawah kolong jembatan, di taman-taman kota dan di emperan-emperan toko. Yang tergolek sakit tanpa sentuhan dan bantuan medis. Yang mengemis di tengah jalanan dan di keramaian kota. Mereka telah dikumpulkan pada satu Yayasan Penampungan dan Pembinaan Rakyat – YPPR yang akan membekali mereka dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan agar mandiri, kreatif dan berdaya guna. Sedangkan program yang belum tuntas adalah masalah TKW yang mengalami penyiksaan dan pelecehan karena program penarikan TKW dari negara lain belum memasuki dua tahap akhir.

Sang Presiden menghela nafas panjang. Dimainkannya jemarinya saling bertaut. “Berapa dana untuk dua tahap itu ?”, gumam Sang Presiden. ‘ZO’ menatap Sang Presidan dan berkata : “Dua belas trilyun”. Sang Presiden menoleh ke samping kanannya dan berucap : “Saudaraku ‘ZT’, berapakah hutang Negara kita ?”. ‘ZT-Zero Two’, Mentri Keuangan menatap Sang Persiden penuh arti seraya berkata dengan lembut, “Tahun 2025, seluruh hutang Negara kita telah lunas. Saat ini beberapa Negara miskin berhutang kepada kita, jumlahnya 10 trilyun rupiah”. Wajah Sang Persiden kelihatan segar dan cerah. “Alhamdulillah, inilah yang aku cita-citakan sejak remaja dulu. Negara tanpa hutang. Subhanallah, bahkan kita telah punya piutang.” Mata Sang Presiden berkaca, dia sangat bahagia dan merasakan kelapangan yang luar biasa. Dia berkata, “Ada hal yang ingin kusampaikan kepada kalian”. Para sahabat bertanya secara serempak, “Apakah itu, Saudaraku Presiden ?”. Sang Presiden tersenyum mendengar pertanyaan kompak dan spontan itu, kemudian berucap, “Saya ingin melelang kebutuhan 12 trilyun untuk penarikan TKW itu. Kepada seluruh menteri dan pejabat. Juga kepada pengusaha dan masyarakat.”. Sang Presiden diam sejenak dan melanjutkan kembali, “Tawaran pertama dari saya, sumbangan sebesar 1 trilyun ru….pi ….ah …”. Kalimat Sang Presiden menggantung. Terganggu oleh bunyi alarm darurat dari HPnya. Diraihnya HP-nya. “Ada apa ZE ?” Tanya Sang Presiden kepada Ajudannya, ‘ZE-Zero Eleven’. “Apa tuntutan mereka ?” Tanya Sang Presiden lagi. Para sahabat gelisah. Dalam hati mereka bertanya, siapakah yang menuntut dan apa yang dituntut ? “Tolong dijaga keamanan mereka, sebentar lagi saya keluar”. Sang Presiden menutup HP-nya, kemudian berkata, “Ada demonstrasi di luar. Kalian lebih dulu kesana, saya menyusul. Kita tutup pertemuan ini dengan membaca doa Penutup Majelis dan Do’a Rabithah !”.

oooOooo

Di luar gedung, kerumunan para demonstran diwarnai dengan lambaian poster-poster dan spanduk yang bertuliskan kata – kata : “Jangan Ganti Presiden !”.“Tolak Presiden Baru!” “Kami Cinta Presiden Penolong Rakyat !”. “Pertahankan Presiden Pemihak Rakyat !”. “Tak perlu ada pilpres lagi !”. Para sahabat terharu dan memahami. Ternyata kerendahan hati Sang Presiden, menyebabkannya tak mengutarakan hal ini secara detil. Kristal-kristal mutiara mengambang jernih di pelupuk mata mereka. Begitulah Sang Presiden. Tak mengherankan, bila rakyat mencintainya. Tiba-tiba, sorak sorai para demonstran gegap gempita, riuh menyambut lambaian tangan Sang Persiden yang memasuki arena. Sang Presiden menatap para demonstran dengan pandangan penuh kasih dan berwibawa, kemudian mengucapkan kata : “Assalamu’alaikum, selamat sore, rakyat Indonesia yang saya cintai. Saya sangat terharu atas tuntutan kalian. Namun, hukum dan peraturan yang berlaku, masa jabatan saya akan berakhir.” Gemuruh suara para demonstran, di susul teriakan-teriakan lantang memenuhi arena : “Teruskan !”. “Jangan Ganti, kami tidak mau!.” “Kami cinta Presiden !”. Sang Presiden menghela nafas panjang. Mencoba menentramkan para demonstran, dengan mengangkat tangannya ke atas dan ke bawah. “Saudara-saudara yang saya cintai. Saya dan Saudara, harus bersikap kesatria !. Seorang kesatria memiliki jiwa pemberani. Gagah berani !. Artinya dalam posisi saya, berani maju berani mundur. Dalam posisi Saudara-saudara, berani menerima saya, beranilah melepas saya !”. Para demonstran yang tadinya gemuruh, kini terdiam dan terpana. Sang Presiden menatap mereka dengan tatapan luas dan melebar. Gelombang kasih dan cinta menyelip indah dalam pancaran matanya. Berbinar dan menari bahagia, menyadari rakyatnya masih bisa disentuh dengan kata-kata bijak. Inilah yang membahagiakannya. Tak pecuma dia membuat sebuah program “Sentuhan Mingguan Sang Presiden” yang direlay di seluruh siaran tv nasional menjelang waktu shalat maghrib pada setiap hari Minggu. Sang Presiden ingin mengucapkan kata-kata lagi. Bibirnya mulai bergerak, “Sauda…” Tapi tiba-tiba sebuah benda kecil hitam melesat cepat kearahnya dan terpental keras dari pijakan pipi kiri. Membalik ke arah para demonstran. Di susul dengan teriakan histeris susul menyusul yang memporakporandakan barisan. Begitu cepatnya kejadian itu. Dari kejauhan Sang Presiden melihat seorang demonstran putri berjilbab putih di barisan terdepan bermandikan darah yang mengucur dari pelipis kanannya.

ooOoo

“Dari pengamatan kalian tadi, apa yang telah terjadi ?” Sang Presiden langsung membuka pertanyaan pada pertemuan darurat di ruang rapat mini istana kepresidenan setelah mereka terpaksa bubar cepat dari arena demonstran.. “Bapak Pesiden yang mulia, ada sebuah benda kecil hitam melesat cepat ke arah pipi kiri Bapak dan diduga itu adalah sebuah peluru. Kemudian memantul kembali dan nyasar ke seorang putri pada barisan terdepan. Kesimpulannya, ada yang ingin membunuh Bapak !” Jawab Kepala Pengawal Kepresidenan. Sang presiden mengangguk-angguk. Itulah yang diduganya. Sang ajudan juga mengangguk membenarkan. Sang Presiden berpikir keras. Lalu menatap serius ke arah Kepala Pengawal Kepresidenan. “Saya ingin, pelakunya dapat segera ditangkap. Saya tunggu kabar dalam tempo 2 jam. Rapat ditutup, terimakasih”.

ooOoo

Siapakah yang ingin membunuh Sang Presiden yang mulia ini ? Dari pihak manakah ? Kenapa peluru itu terpental kembali ? Apakah karena hakikat kemuliaan akhlak dan ibadahnya yang melindungi dirinya ? Seperti cerita-cerita para sufi yang menyimpan karomah ? Sejuta tanya dan jawab bermain petak umpet di pikiran kedua staff itu. Mereka bergegas cepat. Kepala Pengawal menuju ke arena demonstran yang histeris ketakutan penuh hirup pikuk dan berantakan. Angin sore yang biasanya lembut dan bersahabat, kini tak nyaman lagi. Tugas berat sedang diembannya.

oooOooo

Setelah Ajudan dan Kepala Pengawal Kepresidenan berlalu, Sang Presiden bergegas ke Ruangan Rahasia di balik toilet. Mengambil sebuah teks book dari lemari buku. Terbukalah pintu rahasia. Diangkatnya sebuah lukisan. Terbukalah lemari rahasia. Diputarnya kunci rahasia. Diambilnya kaca mata hitam yang terletak di dalamnya. Kemudian sejenak dia menggerak-gerakkan kedua tangannya, seolah-olah sedang melepaskan “sesuatu yang tak kelihatan”. Diletakkannya di atas ambal indah buatan Iran. Dipakainya kaca mata tadi. Terlihat “sesuatu yang tak kelihatan” itu adalah sebuah baju mantel silver transparan. Ini adalah hadiah yang diberikan sahabat seperguruan spiritualnya di Timur Tengah, ‘Akh X’. Waktu itu -enam bulan setelah pelantikannya- sepuluh tahun yang lalu, ‘Akh X’ mengirimkan hadiah ini kepadanya dengan pesan sms : “Jangan dibuka, kecuali sendiri”. Ketika membuka bungkusan itu, dia hanya melihat sebuah kaca mata hitam yang mengambang di atas “sesuatu yang tak kelihatan”. Dalam hatinya, mengapa hanya karena sebuah kaca mata hitam ini dia harus membukanya sendirian ? Di atas selembar kertas yang terlampir disitu tertulis dalam bahasa Arab yang artinya :”Pakailah kaca mata ini”. Tahulah dia akhirnya bahwa “sesuatu yang tak kelihatan” itu adalah sebuah baju mantel bertopi dan bertopeng ninja, berwarna silver transparan. Pada saku sebelah kanan dia mendapati sepucuk surat dari bahan yang sama. Yang kalau dilihat dengan mata telanjang, tidak akan kelihatan. Dibacanya. “Saudaraku yang kucintai karena Allah. Selamat atas dilantiknya engkau menjadi Presiden. Aku tahu tugasmu berat dan mulia karena cita-citamu sangat agung. Dalam dunia ini, dimana ada Muhammad, disitu akan ada Abu Jahal. Artinya, ada yang baik, yang akan mendukungmu. Ada yang jahat, yang tidak mendukungmu. Yang akan membencimu sampai ke sum-sum tulangnya. Ini terbuat dari bahan baja dan anti peluru. Baik peluru tercanggih sekalipun, tak akan mampu menembusnya. Dan takkan terdeteksi oleh alat apa pun di dunia ini. Karena aku telah melapisinya dengan bahan umum biasa dan tak mencurigakan. Alhamdulillah, Allah memberiku ilmu dan harta yang banyak. Simpanlah di tempat yang tersembunyi. Jangan beritahu siapa pun. Pakailah setiap kali kau mengadakan acara-acara di muka umum. Selamat berjuang, Saudaraku. Ttd. Akh X”.

Itulah surat rahasia dari ‘Akh X’, yang akhirnya dirancanglah Ruangan Rahasia ini. Tak seorangpun mengetahuinya karena seluruh rancangan dan pekerjanya didatangkan oleh ‘Akh X’ dari Timur Tengah. Betapa matangnya perencanaan sahabatnya itu. Dan hari ini, apa yang dikhawatirkannya telah terjadi. Dipandangnya tajam bagian atas baju mantel silver transparan itu, topeng ninja yang menyatu dengan topi mantelnya. Pada bagian pipi sebelah kiri topeng itu ada sedikit goresan tipis retak-retak. Hantaman keras sebuah peluru tadi, tapi tak sampai menembus. Dia harus segera memberitahukan kejadian ini kepada ‘Akh X’.

oooOooo

Di ruang keluarga Istana Kepresidenan, tujuh hari kemudian, Sang Presiden dan keluarga sedang berkumpul menyaksikan penyiar tv yang melaporkan :”Saudara-saudara pemirsa televisi “Zero-zero Seven” yang setia, berikut kami sampaikan secara singkat hasil inti dari penelusuran dan penyidikan tim kami dalam kasus “penembakan gagal” Sang Presiden. Antara lain, dua jam setelah terjadinya insiden, telah ditangkap pelaku-pelaku yang mencurigakan. Para pelaku ini berhasil ditangkap setelah dilakukan penyisiran pada barisan para demonstrans dan lokasi terdekat. Selanjutnya, dalam tempo tujuh kali dua puluh empat jam, hasil kerja keras seluruh aparat keamanan berhasil mengungkapkan siapa otak dari insiden ini, antara lain : Satu, Mantan Menteri Pengurusan dan Kesejahteraan Tenaga Kerja dengan motif sakit hati telah dipecat.. Saudara pasti ingat pada kasus tujuh tahun yang lalu. Mentri ini dipecat karena lalai dan tidak menolong puluhan TKW yang berada di Negara “Eksis” yang terkena wabah penyakit menular. Padahal, program Jamsostek untuk TKW kita waktu itu telah disyahkan dan para TKW telah melapor dan memohon bantuan. Kedua, Menteri Kekayaan Bumi yang enam tahun lalu dipecat karena terkait kasus penjualan Kekayaan Material Bumi Indonesia secara illegal untuk memperkaya diri sendiri kepada Negara lain. Sementara rakyat Indonesia sendiri yang memerlukan material tersebut mengalami kekurangan pasokan yang besar sehingga hampir menimbulkan revolusi rakyat.. Demikianlah laporan kami. Saya, Aisyah Quthb undur diri dari hadapan Anda. Terimakasih !”.

oooOooo

VALENTINE’S GLOBAL WARMING

Oleh :

Lubna Shiba Agent

Tulisan di Mading itu, menggemparkan. Reaksinya luar biasa. Berjubel anak-anak SMU Excellent, saling berlomba untuk bisa membacanya.

Sepasang mata, berbinar bahagia memandang suasana ‘jejalan’ itu dari pintu ruang OSIS di sudut kiri lokasi SMU Excellent itu. Sepasang mata milik Hafsah, anak kelas 2 Plus yang menjabat sebagai Ketua OSIS. Hatinya berdegup kencang. Punggungnya bersandar pada kerangka pintu abu-abu itu. Dipejamkannya matanya. Mencoba mengulang kembali apa isi tulisannya pada kolom Opini Mading itu. Kata demi kata, membentuk barisan kalimat, hadir dalam benaknya….

‘….Pencemaran Hari Valentine yang dikenal dengan Hari Kasih Sayang, 14 Februari, telah melanda para remaja ibarat Global Warming yang melanda bumi. Para remaja yang masih polos, lugu, ceria dan cerdas, masa depan cerah, termusnahkan karena kehormatan-kehormatan diri tergadaikan sebagai perwujudan bukti Kasih Sayang. Inilah kisah tak terbantahkan dari bukti perwujudan Cinta tersalah artikan, sebagaimana yang seringkali terjadi setiap tahunnya.

Merenggut kehormatan diri dari gadis yang dicintai bukanlah bentuk dari kasih sayang. Itu namanya kejahatan dan kemiskinan moral.

Begitulah juga dengan bumi. Dampak Global Warming menyebabkan kerusakan bagi seluruh eksistensi dunia. Banjir, tanah longsor, gagal panen, perubahan iklim drastis yang tidak terkendali, penipisan lapisan ozon, yang akhirnya….akan mematikan manusia, hewan dan tumbuhan.

Seperti itulah remaja yang menyalah artikan Valentine’s Day. Terenggutnya ‘kehormatan’ remaja putri, menyebabkan malapetaka seumur hidup. Kehancuran masa depan dan cita-cita yang termusnahkan ! Jadilah ia, Kasih Sayang berparas ‘cinta’ dengan merobek ‘selaput kehormatan’ adalah bagaikan ‘cinta global warming’. Menghancurkan agama dan mematikan masa depan !.

Siapa yang setuju ‘Opini’ saya ini, silahkan membuat “Ranprog & Saran Edukatif”-nya, untuk kita laksanakan pada Valentine’s Day di sekolah ini. Saya tunggu ! Terimakasih. Ttd. Ketua Osis SMU Excellent.’

Tepat, ketika Hafsah selesai membaca tulisan yang terbentang dalam benaknya, tiba-tiba suara-suara teriakan dan derapan langkah-langkah sepatu menghampirinya.

“Kak Hafsah, kami setuju !” Teriakan itu berasal dari puluhan siswi yang berlarian ke arahnya sambil mengacungkan selembaran kertas di tangan kanan mereka. Sejenak, Hafsah terperangah dan kaget. Memandang bisu, puluhan tangan yang terjulur ke arahnya. Berdesakan dan saling berebut. Kelabakan dia menerima satu per satu lembaran kertas itu. Suara gaduh, timpa- menimpa memekakkan telinganya.

“Ini Ranprog dan Saran kami, kak !”

“Hidup, kak Hafsah !”

“Kami sependapat dengan kakak !”

“Kita isi Valentine’s Day dengan program edukatif, kak !”

Kewalahan dan kebingungan, tanpa sadar Hafsah berteriak keras, “Berhentiii… !”

Para siswi terkejut, dan refleks terhenti, terdiam beku. Ada yang bagaikan patung sedang mengacungkan kertas. Ada yang mulutnya sedang ternganga. Ada yang kakinya sedang berjingkat. Ada yang sedang memegang bahu temannya. Semua sedang melakukan reaksi ‘gantung’. Kemudian tersadar, menghembuskan nafas kelegaan, dan lemas merilekskan diri.

Hafsah menarik nafas panjang. Dilihatnya pengurus Osis lainnya : Sekretaris, Bendahara, dan Wakil Ketua, menyelinap paksa di sela-sela para siswi, kemudian bergabung dengannya.

“Teman-teman, kami mengucapkan terimakasih atas respon yang kalian berikan. Tapi mohonlah dengan tertib, tidak berjubel dan berdesakan begini. Untuk baiknya, tolong masukkan Ranprog kalian ke kotak saran saja ya. Nanti akan kami proses dan umumkan apa-apa program Valentine’s Day kita.Terimakasih !”. Hafsah segera masuk ke ruang OSIS, disusul oleh ketiga rekannya, Iwan, Ana dan Dinda.

“Aku tak menduga akan respon yang luar biasa ini !”, celetuk Iwan.

“Iya, aku juga !”, kata Ana menimpali.

Dinda menggumam tak jelas. Begitulah dia, selalu tak mau memberikan komentar bila belum duduk dengan tenang. Tetapi, bila dia telah berbicara, buah pikirannya sangat cerdas dan berdaya guna.

Tanpa rencana, mereka segera mengadakan rapat kilat khusus. Masing-masing duduk di kursinya.

“Begitulah remaja…,” Dinda membuka suara.

“Bila nalarnya dibukakan dan dipacu dengan percikan spirit, serta merta respon mereka akan menggebu-gebu. Itu karena sifat keingintahuannya yang besar,” lanjut Dinda lagi.

“Oleh karena itulah, kita harus selalu berusaha untuk menghentakkan semangat remaja yang sedang tidur agar terbangun dan senantiasa bergerak ke arah yang bermanfaat dan berprestasi”, Hafsah menimpali komentar Dinda.

“Tanggung jawab dan kerja berat harus kita lakukan, karena remaja sangat rentan. Dunia yang semakin mengglobal, membuat kita harus berhati-hati. Jeli memandang perubahan yang terjadi agar setiap Ranprog OSIS senantiasa memberikan angin segar dan perubahan ke kompetisi yang mencerahkan dan tercerahkan bagi remaja”, Hafsah sebagai Ketua OSIS mengingatkan kembali anggotanya tentang niat dan iktikad mereka duduk di kepengurusan OSIS. Teman-temannya mengangguk terharu, mengingat awal mula mereka berikrar. Tekad dan keikhlasan yang luar biasa mereka ‘patri’ dalam hati. Hal ini, karena mereka melihat kenyataan banyak remaja yang menjadi korban Narkoba, Traffiking dan Eksploitasi Seksual Komersial Anak. Jumlahnya sudah sangat mengkhawatirkan, bagaikan gulungan bola salju yang berguliran dari atas bukit. Besar dan semakin besar. Sangat menakutkan !

“Begitupun, janganlah tugas berat ini menyebabkan tanggung jawab kita pada diri sendiri dan orang tua terabaikan. Kita juga harus bekerja keras dan memanage waktu kita dengan baik agar prestasi akademik kita tetap terjaga. Yakinlah, Tuhan akan menolong cita-cita luhur kita. Besok kita rapat untuk membahas Ranprog dan Saran yang masuk, lalu kita bandingkan dengan ranprog yang telah kita buat sendiri”, Hafsah memandang teman-temannya dengan penuh kasih sayang dan harap.

Teman-temannya mengangguk bisu. Mereka mengakhiri rapat kilat itu. Kemudian masing-masing khusyu’ dan serius membaca buku pelajarannya, menunggu bel berbunyi. Jam istirahat ‘melenggang santai dan anggun’. Sementara matahari bersenda gurau dengan angin yang lewat, menghembuskan kesejukan di ruangan itu. Suasana cerah dan sejuk. Secerah masa depan yang menanti dengan senyum kesejukan. Bunga-bunga dan dedaunan menari, mengiringi nyanyian burung-burung kecil dan tawon-tawon yang hinggap di atasnya.

Hari tersenyum, berputar ceria dengan tawa riang. Seriangnya masa remaja dalam tekad menyingkirkan Cinta Global Warming dari kehidupan mereka….

oooOooo

MUTIARA DAN MARJAN

Oleh :

Lubna Shiba Agent

Sore itu hampir menjelang pukul 17.15 lewat. Pembicaraan tentang Dunia Islam semakin hangat. Sulit mencari celah untuk menghentikannya. Halaqoh kali ini tentang Topik Dunia Islam. Ada dua topic yang diangkat. Pertama tentang Yahoo, sebagai sebuah temuan menarik yang membuktikan bahwa di seluruh dunia ini terdapat ‘sesuatu’ atau ‘ideologi tertentu’ yang sengaja disusupkan atau diselipkan oleh ajaran Yahudi Internasional guna mewujudkan tatanan dunia baru (The New World Order) di akhir masa. Yang kedua tentang Kolombia, negeri yang seolah identik dengan ekspor obat-obatan terlarang. Perang antar geng produsen dan pengedar narkoba yang acap kali terjadi, namun begitu, Islam nyatanya tumbuh juga disana.

“Jadi, si muallaf Luz Amparo Abdulkhair ini bilang bahwa terorisme tidak ada kaitannya dengan agama maupun pemikiran muslim di seluruh dunia. Mereka melihat manusia hanya dari luarnya saja dan melihat muslim lalu menghubungkannya dengan teroris. Begitu pula dengan orang Kolombia yang identik dengan narkoba. Islam tidak mengajarkan orang untuk menyerang siapa pun. Tapi jika mereka menyerang anda, ini adalah kewajiban anda untuk mempertahankannya ….”. aku menutup materi yang kuangkat dari Majalah Era Muslim dengan Judul “Ejaan Yahweh dalam Tulisan Ibrani dan Denyut Islam di Kolombia.

Jam telah menunjukkan pukul 17. 45 WIB. Kulihat mendung mulai menyelimuti langit. Jarak dari Garu I ke Denai lumayan jauh. Hanya dengan sepeda motorku membonceng ustadzah membuat hatiku galau. Kutoleh lagi ke belakang, ustadzah dengan tenang berjalan menghampiriku. Di wajahnya terpancar ketenangan yang mendalam. Usianya masih muda, sekitar dua puluh tujuh tahun. Badan tinggi langsing, kulit putih halus, pipi putih kemerahan, wajah ayu dan…. tak ber-make up. Subhanallah, cantiknya ! Di samping cantik luar biasa, menurutku, ketenangannya membuatku bergetar. Seperti air yang tak beriak. Seolah tidak pernah ada kemarahan dan kegalauan di sana. Kog bisa, ya ?! He he, kadang aku tertawa sendiri. Dasar, orang Medan blo’on, ustadzah itukan orang dari pulau Jawa sana…. Tidak grasak grusuk kayak aku ini. Terkadang aku belajar meniru gayanya, he he, ….tapi gak bisa. Kasiaaan…deh aku !

ooOoo

Rintik hujan mulai berkejar-kejaran. Tik….tik….tik…..dan ….tiba-tiba saja langsung deras seolah tertumpah numpluk begitu saja dari atas langit. Pluk! Dan pluk itu kejar-kejaran, tak peduli apa pun. Ustadzah berlari ke depan pintu wartel sambil melindungi si kecil Hamzah. Aku bergegas mengikutinya. Kulihat ustadzah mencoba membuka handle pintu wartel. Ternyata terkunci. “Allah !”, pekikku dalam hati. “Terkunci !”, kata ustadzah ke arahku. Kutangkap ada sedikit ketegangan di wajahnya. Aku menghitung-hitung berapa lama kira-kira hujan yang tertumpah deras ini akan berhenti. Kupanggil tukang becak. “Bang, ke …”menggantung ucapanku karena tiba-tiba saja sebuah suara menyambar dari sebelah kananku. “Ke Garu satu ya, bang !”. seorang ibu menyela cepat. Kulihat dia mendekap seorang bocah berusia dua tahun. “Ibu ini sajalah yang duluan, dia punya anak kecil”, kataku memelas kepada ibu muda itu seraya menunjuk ustadzah. Hatiku trenyuh melihat Hamzah. “Saya juga punya anak!”, kata ibu itu tak mau mengalah. Aku ingin menyela lagi, mencoba membukakan pikiran ibu itu bahwa Hamzah masih berusia dua bulan. Tapi sebuah suara pelan menghentikan mulutku yang baru saja akan terbuka. “Biarlah, nanti kita panggil becak yang lain lagi”, kata ustadzah lembut, mencegahku mendesak lagi. Serrr, darahku mendingin. Melemah dan mengalah.

Derasnya hujan seolah tak mau berhenti membuat si tukang becak pun turun dari becaknya dan ikut bernaung bersama kami. Terdengar suara pintu wartel dibuka. Serentak kami menoleh. “Eh, ibu-ibu. Aduh, ada anak kecil lagi. Masuk….masuk, kasian anaknya !” seorang gadis pemilik wartel itu menatap iba kepada kami. Aku dan ustadzah saling berpandangan. “Iya, kami menumpang berteduhlah ya sampai hujan reda. Kasian ada anak kecil”, kataku memelas. “Iya….iya, silahkan !” katanya ramah. Alhamdulilllah, ada tempat berteduh. Hatiku sedikit senang dan lega .

Kuhenyakkan pinggulku di atas sebuah kursi. Belum lagi aku bernafas lega, tiba-tiba saja ustadzah bertanya padaku. “Lubna, kenapa terjadi halilintar ?” Sejenak aku terhenyak, namun spontan menjawab, “Karena syetan mencuri dengar berita langit maka dia dilempar dengan bintang-bintang yang ada di langit dan terjadilah kilat!”. Serta merta aku mendengar sebuah ledakan tawa, “Ha….ha…ha…!”, ibu muda tadi ngakak spontan. Aku mengernyit. Sudut mataku melirik ke arahnya. Dia memakai jilbab pendek. “Eng….maksudnya apakah ada keterlibatan awan ?”, sambung ustadzah mencoba menjernihkan. “Oh, secara ilmiah ? kalau tidak salah sih, karena awan yang bergesekan satu sama lain, maka terjadilah kilat. Kilat yang sambar menyambar itu adalah awan-awan yang bergesekan kejar-kejaran terus menerus !”, jawabku spontan dan cepat. Ibu muda tadi membenarkan jawabanku, “Iya, berkejar-kejaran !”, katanya serius. Aku cuek saja.

ooOoo

Aku melihat jalanan kosong melompong. Tak satu pun becak bermotor yang lewat. Hari sudah memasuki maghrib. Aku berfikir cepat, dan berkata, “Ustadzah, gak ada becak. Bagaimana kalau kita berangkat saja ? Mantel di prioritaskan untuk Hamzah ?”. Ustadzah mengangguk. Maka jadilah aku membonceng ustadzah dan Hamzah pulang dalam keadaan hujan rintik-rintik yang menggigit. Hatiku iba pada Hamzah. Aku menoleh ke belakang dan berkata, “Hamzah. dingin sayang ? Sebentar lagi kita sampai ya sayang …!?” Aku terpikir, Subhanalllah, masih kecil dan merah sudah diajak berdakwah. Inilah pembentukan tunas-tunas mujahid tangguh. Dalam gelombang cuaca panas dan dingin. Mencambuk kecengengan dan kemanjaan diri. Membentuk ketegaran yang hakiki. Setegar gunung yang mem-pasak bumi. Kuat dan tidak goyang. Kukuh! Inikah tempaan pejuang dakwah ? Pejuang dakwah yang akan menggetarkan dunia ? Memporakporandakan kebatilan ? Menegakkan kebenaran ? Sehingga tak ada satu hal apa pun yang ditakuti dan yang dilakukan selain hanya untuk Allah ? Sang Pencipta dirinya ?

Sepanjang perjalanan, aku mencoba mengisi kekosongan dengan melantunkan dzikir Ustadz Arifin Ilham. Subhanallah walhamdulillah wala ilaaha illallah allahuakbar ! Bersenandung lembut dan sekali-kali kuucapkan : “Yaa wakiil …. Yaa wakiil…” Dzikir itu kulantunkan bila kulihat sesekali kilat memancar di sudut langit. Senandung dzikirku kuhentikan ketika ustadzah berkata, “Lubna tahu dari mana kalau kilat itu adalah lemparan bintang-bintang kepada setan yang mencuri dengar dari langit ?”. “Pernah baca ustadzah, tapi lupa dari buku mana ?”, jawabku. “Kalau dulu, iya, setan suka mencuri dengar berita langit sehingga dilempari dengan bintang-bintang. Tapi setelah turunnya Al Qur’an, setan-setan tidak bisa lagi mencuri dengar ke langit. “, kata ustadzah. “Oh, itu ya ustadzah, ketika Surat Al- Jin turun, setan kebingungan tak bisa mendengar berita langit lagi ?”, tanyaku spontan karena pernah membaca tafsir itu. Aku tidak mendengar apakah ustadzah meng-iyakan atau menidakkan tebakanku itu, tapi kudengar dia berkata, “ Terkadang kita tidak bisa begitu saja menyampaikan hal begitu kepada orang awam….”. aku teringat ibu muda tadi menertawakanku. Ya, begitulah saudara kita. Ketidaktahuannya membuat dia tidak pernah mau mengkaitkan segala apa yang terjadi dengan al Qur’an. Minim sekali kita, umat Islam ini, meng-interaksikan diri dan sekitar kita dengan Al Qur’an. Kita lupa bahwa hakikinya kita berjalan dengan Al Qur’an. Bekerja dengan Al Qur’an. Memimpin dengan Al Qur’an. Sehingga kita adalah Al Qur’an – Al Qur’an yang berjalan. Artinya menghidupkan Al Qur’an dalam setiap aktivitas kehidupan.

Hujan masih belum reda ketika aku menghentikan Yamaha-ku di depan rumah ustadzah. Alhamdulillah, Hamzah sudah tiba di rumah, tidak kehujanan lagi, itulah yang kupikirkan. Ustadzah mengundangku untuk singgah dan shalat maghrib di rumahnya, tapi aku merasa lebih baik di rumah saja. Sepuluh menit juga bakal sampai, bahkan bisa lebih cepat lagi karena aku sudah sendiri sehingga bisa melesat dengan kecepatan tinggi, pikirku.

Aku memutar Yamaha-ku. Ustadzah sudah masuk ke dalam rumahnya. Ku klakson dan segera melesat kencang dengan Yamaha-ku. Dalam perjalanan menuju rumah, aku sibuk mereview ulang tentang kelembutan dan kesabaran ustadzah dalam setiap kesempatan kami bersama. Ustadzah adalah sosok wanita soleha. Aku teringat ada sebuah hadits berbunyi : “sebaik-baik perhiasan adalah wanita soleha”. Juga surah Ar-Rahman menuliskan bahwa perhiasan bagi penduduk bumi adalah berupa mutiara. Mutiara keluar dari dua lautan yaitu lautan asin dan lautan manis. Diantara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Dan dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Marjan adalah mutiara kecil merah. Mutiara juga bisa berasal dari kerang-kerang lautan yang mengapung di atas permukaan laut ketika hari hujan dan kerang-kerang itu membuka mulut-mulutnya. Bila ada butir air hujan yang masuk ke dalam mulut-mulut kerang itu, jadilah mutiara. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan ?

Wanita soleha adalah nikmat bagi penduduk dunia. Tidak saja bagi laki-laki sebagai suaminya. Tetapi dengan cahayanya yang berkilau, dia memberikan inspirasi bagi wanita lain di bumi ini bagaimana berakhlakul karimah terhadap diri, suami, tetangga dan segala makhluk ciptaan Allah SWT. Itu memberikan kenikmatan bagi penduduk bumi, karena mukmin yang satu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Dengan saling bercermin maka kita bisa mempercantik dan memperindah tampilan diri, luar dan dalam. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan ?

Kalau disimpulkan seorang wanita soleha adalah mutiara dan marjan, maka ustadzah adalah mutiara dan marjan bagiku. Aku ingin bercermin padanya. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Suara rem Yamaha-ku menjerit sengit di depan rumahku. Glek, aku tersedak. Mataku membelalak.Hatiku terbata. Bukankah….na….ma….us….ta…dzah….Mar….’atush….sha….li…. hah ? Wanita Soleha ! Dua kata itu meloncat begitu saja. Ya, arti Mar’atushsholihah adalah Wanita Shalihah ! Subhanallah ! Itu do’a orang tuanya, ketika memberikan nama untuknya. Terbukti ! Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan ?

ooOoo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: