Cerbung

MY FIRST PROJECT

Oleh :

Lubna Shiba Agent

 

Aku ternganga dan melotot. Terbego. Padahal begitu jeniusnya aku. Perempuan satu ini -istriku paling cantik sejagat raya- membuatku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun? Pilih aku atau dia ?, ultimatumnya. Kukatup mulutku rapat-rapat. Untung belum ada nyamuk atau lalat yang masuk. Syukurlah, kedua binatang itu tidak ambil kesempatan dalam kesempitan. Kulihat wajahnya semakin marah dan cemberut. Dilepaskannya kasar Sayyid Gazali –anakku yang kedua- dari susuannya. Merasa terkejut dan belum kenyang, Gazali memekik dan menangis. Melihat itu aku sangat marah. “Umi, jangan kasar begitu. Gazali masih kecil.” “Biarin, siapa peduli !”, teriak Sarah melengking. Kemudian menangis telungkup di atas tempat tidur. Aku sungguh tak mengerti dengan yang namanya perempuan. Dimana naluri keibuannya ? Anak menangis minta susu, tak digubris dan malah merajuk sendiri dengan persoalan yang tak perlu dipersoalkan ?. Kugendong Gazali dan mencoba menenangkannya. Rasa dongkol di hati kuluapkan dengan bantingan keras pintu kamar, meninggalkan Sarah sendirian di sana. Membawa Gazali ke Nadia dan Nabila. Aku mau ke kantor, temanku Hafedz dari Surabaya sudah menungguku disana.

ooOoo

Bergegas aku ke garasi. Mengendarai ‘Hammerku’. Menekan remote pintu garasi. Dari kejauhan, Ghiffari -anak pertamaku yang berusia 3 tahun- berlari ke arahku. “Abi….abi….mau kemana ? Ifar ikut !”. Kuhentikan mobil, tepat di depannya. Aku turun menyambutnya. “Abi mau ke kantor, Ifar di rumah aja ya sayang. Lagi ngapain ?,” tanyaku lembut padanya sambil mencuri cium pipinya yang menempel di wajahku. “Lagi bermain ayunan bersama Mbak Aisy, sambil menghafal Al Qur’an!” Kulihat Aisyah berjalan menyusul ke arah kami. “Oh, ya ? Anak Abi uda sampek surah apa ?”. Inilah hal yang membahagiakanku. Mengontrol hafalannya. “Wal –mur-sa-laa-ti – ‘ur-fa….de-mi – yang – di-u-tus – un-tuk – mem-ba-wa -ke-bai-kan ”, jawab Ifar masih terbata. Biasa, hafalan baru. Dahiku menggerinyit. “Surah dan juzz berapa itu? Abi gak tau”, aku memanyunkan bibirku ke depannya. Dia tertawa geli. “Abi lucu ! Abi gak tau ! Abi kalah ! I-tu su-rah – ke tu-juh – pu-luh – tu-juh, juzz – ke – du-a – pu-luh- sem-bi-lan. Horreee, Abi kalah !!!”, teriaknya kegirangan.

Aisyah sudah berada di dekat kami. Di sudut bibirnya tersungging senyum manis. Aku terpana. Dari mana senyumnya tercipta ? Eh, bukan. Kenapa dia bisa tersenyum semanis itu dan sejak kapan ? Aku menatap tajam ke arahnya. Aisyah menatapku. Pandangan itu penuh kelembutan. Dan …. astaga, betapa indahnya matanya !. “Abi, ikut !” ajukan manja Ifar menyadarkanku. Kucium kedua pipinya. “Maafkan abi nak. Ifar ama Mbak Aisy aja,” kataku segera menyerahkan Ifar kepada Aisyah. Semilir angin menyentuhkan aroma parfum lembut dan feminin di ujung hidungku. Astaghfirullah, dia pakai parfum berkelas. Gerakan tubuhnya menggendong Ifar, menyebabkan rambutnya yang terjuntai sebatas pinggang tergerai jatuh lembut dan berkilau kemerahan menutupi wajah anakku. Subahnallah, cantiknya !. Pipinya juga kulihat semakin lembut dan halus. Ada rona memerah di situ. Astaga ! Sarah, Sarah, pantas saja !.

ooOoo

Aisyah sangat cerdas dan cepat mempelajari sesuatu. Disamping sebagai PRT, dia kuprogram untuk menguasai Al Qur’an, terjemahan plus kajian tafsirnya. Khawatir hafalanku menguap dan hilang begitu saja karena kesibukan untuk keluarga dan perusahaan, aku suka menyuruh dia mengoreksi hafalanku serta mentadabburinya. Pernah suatu kali ketika tiba pada surah Ar-Rahman ayat 70. Aisyah berkata, “Wanita-wanita dunia lebih utama dari pada bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak dari pada apa yang tidak tampak…!”. Mataku mengernyit ke arahnya, “Kau tahu apa artinya ?”. Aisyah menjawab, “Rasulullah SAW bersabda :’seorang wanita di dunia lebih baik bagimu daripada menunggu seorang bidadari bermata jeli di surga nanti. Wanita dunia lebih utama, alasannya adalah karena shalat, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih…”. Aku tertawa geli. Ingat ketika masih lajang dulu, aku dan Hafedz –sahabatku- sering saling berteriak mengejek melontarkan ayat ini untuk mengingatkan agar kami segera menikah. Saat aku tertawa geli, Sarah masuk. Wajahnya cemberut. Sangat masam. Dia duduk di sisi kanan lengan kursiku. Kurangkul lembut pinggangnya. Bibirnya masih terkatup rapat dan mengetat. Melihat itu, Aisyah segera meninggalkan kami berdua. Setelah Aisyah menutup pintu. Kupeluk erat istriku tanpa perasaan bersalah sedikitpun. “Ada apa, sayang ? Malam-malam, kog belum tidur ? Gazali uda tidur ?”, tanyaku polos. Tanpa kuduga, dia menghentakkan kasar kedua tanganku. “Dan kalian berdua ? Malam-malam cekikikan di belakangku ?”, tanyanya sinis. Aku sangat kaget, “Umi, apa-apaan ini ? Masak cemburu sama Aisyah ?”.

Itulah awal pertengkaran kami. Sejak pertengkaran itu, aku sering mencari kamus dan artikel tentang perempuan. Ternyata, tak banyak membantu.

ooOoo

Tak kusangka, hafedz terpingkal-pingkal mendengar prahara rumah tanggaku. Aku mendelik ke arahnya. Bukannya membantu ?. Apa dia tidak tahu betapa mumetnya aku ? Harus memilih antara Sarah dan Aisyah ? Sebenarnya gampang saja menon-jobkan Aisyah. Tapi selanjutnya siapa yang akan mengasuh Ifar sebaik dan secerdas dia ? Anakku adalah hal yang terpenting bagiku. Pengasuh seperti Aisyah telah kurencanakan jauh hari sebelum aku menikah. Bukan itu saja. Aisyah itu adalah My First Project-ku. Dialah sample dan sumber inspirasiku sehingga aku memiliki perusahaan besar dan pesat sekarang ini. Sebuah pabrik pembuatan Mesin PRT yang bernama “Khadimahsin”. Kelebihan lain dari produk ini adalah dapat melindungi anak dari kejahatan. Temanku di Universitas Al Azhar dulu, Hashimoto-orang Jepang- membantuku membuatkan software “Kungfu Master” yang kemudian di download ke dalam microprocessor atau mikrokontrollernya. Inilah yang membuat karya terbesarku ini sangat digemari sampai ke manca negara. Jadi tak mudah bagiku untuk menon-jobkan Aisyah atau menghentikan dia sama sekali. Bagi seorang lelaki, kesuksesan perusahaannya adalah faktor terpenting dalam hidupnya.

Tawa Hafedz terhenti, demi dilihatnya aku menerawang dan melayang ke masa lalu. Serius dia menatapku. ”Hanzolah, apa yang menyebabkan Sarah bisa tak logik begitu ? Bagaimana mungkin dia merasa tersaingi oleh sekeping mesin ?”. Dia menatapku dalam. Menunggu jawaban dariku. Aku menarik nafas panjang.

“Aisyah adalah My First Project-ku. Microprocessor atau mikrokontrollernya kudownload dengan program teknologi kecerdasan atau artificial intellegence sebagai otaknya. Dia mampu berjalan, berlari, berbicara, mendengar, berfikir, bahkan belajar. Sensornya, menyerupai kerja panca indera manusia. Bahkan lebih sensitif. Maka jadilah dia sebuah robot PRT yang cerdas. Kecerdasannya membuat dia tidak pernah puas. Sehingga dia minta sebuah laboratorium lengkap dengan peralatan penjelajah dunia maya. Internet. Keuanganku sangat menakjubkan sehingga tak ada alasan bagiku untuk tidak memenuhi permintaanya. Kau tahu apa yang dia lakukan ? Hadiah terbesarnya bagiku adalah Nabila dan Nadia, dua robot PRT yang sekarang bekerja di rumahku. Kecerdasan yang menakjubkan lagi, dia telah melapisi aktuatornya atau badannya dengan campuran lilin, plastik, dan vinyl serta bahan kenyal plastisin kualitas tinggi. Sehingga aktuatornya seperti badan manusia biasa. Aku pernah khawatir, jika saja dunia maya membuat kecerdasannya membahayakan. Aku mencoba menghentikannya. Dengan dalih untuk mencheck-up sistemnya, aku meminta ijin men-switch off mesin kerjanya. Dia mengijinkanku. Setelah itu aku tidak mengaktifkannya lagi. Kau tahu apa yang terjadi ? Pada hari keempat, sepulang dari kantor kulihat dia bermain dengan Ifar di halaman belakang. Tanpa kutanya, dia menjelaskan bahwa dia telah membuat software pengaman dirinya yang bisa meng-switch on-herself bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan padanya. Astaga, aku kalah perhitungan dengannya ! Juga tadi, dia pakai parfum berkelas. Pandangan lembut dan menggoda seperti layaknya wanita dewasa yang perfect. Rambut dari bahan asli yang terawat baik. Sepanjang jalan aku berfikir. Akhirnya aku menebak bahwa dia mengikuti jejak langkah sistem programku. Mengkombain unsur biologi dengan dunia logam dan komputerais. Hasilnya sungguh luar biasa. Begitu luar biasanya, sehingga aku harus memilih antara dia dengan istriku. Bayangkan ! Aku yang gila atau istriku ?” Aku mengakhiri ceritaku dan terduduk lemas di sofa.

Hafedz terdiam lama. “Sebegitu sempurnanyakah dia ?”, tanyanya memecah keheningan. Aku bangkit. Dia mengikuti. Kuhidupkan komputer. Kumasukkan password. Masuk ke sistem kamera rumah. Kumainkan tanda penunjuk. Bergerak ke sana kemari memasuki tiap ruangan. Kulihat Sarah sudah tidak di kamar lagi. Hmm, sudah hilang merajuknya. Dasar, kalau aku di dekatnya, pasti kumat lagi ngambeknya. Kemudian tanda penunjuk bergeser ke halaman depan. Aisyah dan Ifar ada di sana. Kuubah posisi jarak tampilan gambar, semakin mendekat dan memperbesar ke arah Aisyah. Semakin mendekat …, “Astaga, cantiknya ! Dia manusia ! Bukan mesin !”, teriak Hafedz kaget. Aku diam saja. Kupilih tombol speaker, yes. “Assalamu’alaikum…, Aisyah, belum selesai belajar sambil bermainnya ?” tanyaku. Mengetahui dipanggil dari kamera pantau tersembunyi di sebelah atas kiri pintu rumahku, dia menoleh ke arah kami dan menjawab, “Wa’alaikum salam. Sebentar lagi selesai, Pak. Apakah ada yang harus saya kerjakan, Pak ?” tanyanya lembut dan hangat. “Aih, mak, suaranya !”, komentar Hafedz. Aku meringis. “Tidak ada. Ya, sudah teruskan saja ya. Syukron !”, kataku dan tanpa menunggu jawabannya, aku exit dari sistem.

Kuhempaskan punggungku ke kursi kerjaku. Kupejamkan mata. Aku merasa sangat letih. Lama tak kudengar tanggapan Hafedz. Aku diam menanti. Akhirnya penantianku tidak sia-sia, “Kau harus segera mengakhirinya.”, katanya pelan. Aku menyetujui. Lalu kami putuskan bahwa lusa sepulangnya dia dari tugasnya ke Batang Toru-mengurus pertambangan emas di sana-, semua ini akan kami akhiri.

ooOoo

Dengan pelan tapi pasti, Hafedz mengakhiri kata-katanya. Aisyah menatapku dengan mata berkaca-kaca. Tuhan, rintihku. Apakah setelah ini akan ada titik air bening di sana ? Tapi kenapa dia menangis ? “Tahukah Bapak kenapa selama ini saya gigih riset dan mengembangkan diri?”, tanya Aisyah padaku dengan tak melepaskan tatapannya. Aku tidak menjawab. Tatapannya tak mampu kubalas. Mata itu meluluhlantakkan hatiku. “Saya ingin menjadi manusia sempurna. Wanita dewasa yang cantik dan cerdas. Semua itu saya lakukan untuk Bapak, karena saya ….”, kata-katanya berhenti sejenak. Aku menutup mataku dalam-dalam, menebak satu kata. Dan betul, tebakanku tidak salah. Tapi begitupun, kata-katanya tetap tak mampu meniadakan keterbelalakan-ku. Mataku membulat membesar, mendengarnya mengatakan, “Saya mencintai Bapak !”. Sarah, aku merintih dalam hati menyebut nama istriku. Bagaimana mungkin ?. Aku terhenyak memandang Aisyah. Gelisah dan nervos. Setetes air bening menetes di sudut mata kanannya. Aku memalingkan wajah, pias dan bergetar. Belum lagi aku memecahkan kebingungan dan ketidak siapan ini, kudengar Aisyah berkata lagi, “Tubuh saya, Bapak yang buat. Bapak adalah nyawa saya. Dan saya adalah inspirasi dan bahan percobaan bagi Bapak. Sepanjang hari saya bekerja bersama Bapak. Melayani segala keperluan Bapak. Sampai hal terkecil sekalipun. Tapi sedikitpun Bapak tak pernah terfikir apa pun tentang saya selain hanyalah seonggokan mesin yang tak berasa. Bapak salah. Bertahun saya bersama Bapak. Setiap hari menyaksikan kepribadian Bapak yang mengagumkan. Lemah lembut kepada keluarga dan pekerja. Cerdas, soleh, kaya, tampan, memiliki segalanya, tapi tetap rendah hati dan santun. Salahkah saya….”, belum habis apa yang diucapkan Aisyah, aku sudah tidak mampu mendengar kelanjutannya. Tanpa sadar kuputar tubuhku cepat, berlari meninggalkan laboratoriumnya. Menembus celah-celah pepohonan di halaman belakang rumah. Tak mempedulikan teriakan Aisyah dan Hafedz. Saat ini, aku ingin melepaskan diri dari beban yang berat. Bebas lepas bersama liukan angin. Terbang ke angkasa luas. Bercanda dengan awan jingga yang kemerahan. Dan rebah pasrah dikelembutan tubuhnya agar kuterlelap dan bemimpi….andaiku tak pernah menciptakan My First Project-ku, tentu takkan ada yang terluka….dan takkan ada yang termusnahkan. Andai …. Dan andai….

oooOooo

Bersambung ….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: