Kumpulan Artikel

PENGUSAHA TANGGUNGJAWAB MORIL

Roswita Harahap*

(Cat : telah dimuat di Harian Analisa, Opini, 7 Sept’2010)

Telah lama dan banyak media massa cetak dan elektronik memberitakan tentang kekhawatiran para orang tua, LSM, YLKI dan pakar gizi terhadap jajanan anak yang disuguhkan oleh para pengusaha yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan gizi bahkan menghancurkan dan merusak organ tubuh anak.

Sebenarnya buka jajanan anak saja, tetapi produk susu juga yang jelas-jelas diharapkan untuk menumbuhkembangkan pertumbuhan dan kesehatan anak, bahkan menjadi produk yang mematikan sebagaimana ramai diberitakan beberapa waktu yang lalu.

Baru-baru ini salah satu siaran televisi swasta memberitakan tentang seorang anak berusia + 5 tahun menderita gagal ginjal karena sering mengkonsumsi snack-snack jajanan anak. Hal ini telah dibenarkan oleh Dokter yang memeriksa penyakit anak tersebut.

Sebenarnya, banyak kasus serupa yang telah menimpa anak-anak kita, tetapi tidak terliput oleh media massa. Inilah yang membuat hati penulis merasa teriris. Bagaimana mungkin para pengusaha/produsen jajanan anak begitu tega menyuguhkan makanan yang menghancurkan organ tubuh anak hanya untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya ?. Dimana tanggungjawab moril mereka ?

Kalaulah kita kaitkan tanggungjawab moril para pengusaha ini terhadap para konsumen (anak) tentulah tidak terlepas dari tanggungjawab mereka kepada Penciptanya. Karena Sang Pencipta tidaklah berkehendak menghancurkan ciptaan-Nya sendiri. Kita lihat saja, ketika Sang Pencipta menciptakan manusia dan menempatkannya di bumi, maka Yang Maha Penuh Kasih telah menyediakan tumbuhan dan binatang ternak (darat, laut dan udara) untuk dapat dikonsumsi manusia untuk kelangsungan hidup mereka. Semua disediakan dan disuguhkan untuk makhluk ciptaanNya, agar makhluknya tidak kelaparan dan kesakitan apalagi busung lapar dan gizi buruk.

Sang Maha Pencipta tidak meminta uang sebagai bayarannya, kecuali dengan menyediakan waktu untuk menyembahNya dengan kesungguhan dan kekhusyukan. Itu saja !. Penyembahan dan kekhusyukan yang dilakukan manusia pun tidaklah menjadi sia-sia melainkan akan mendapat pahala yang tiada putus-putusnya berupa surga.

Harapan kepada para Produsen

Memang, para produsen jajanan anak bukanlah Tuhan yang menciptakan manusia yang bernama ‘anak’. Dan kita pun tidak bermaksud demikian. Tetapi yang kita harapkan adalah agar para produsen jajanan anak menciptakan/menyuguhkan produk-produk jajanan anak yang menyehatkan dan bergizi dan bukan membunuh secara perlahan namun pasti.

Disamping itu, para produsen jajanan anak janganlah hanya mengedepankan nilai bisnis yang mengeruk keuntungan besar, tapi juga harus mengedepankan nilai kasih sayang dan kelembutan hati bagi anak-anak manusia yang bertebaran di muka bumi ini. Sehingga tidak ada lagi kasus-kasus produk susu yang menghancurkan organ-organ tubuh anak. Sungguh mengharukan dan memalukan kejadian ini bila dikaitkan dengan etika bisnis, bahwa manusia-manusia pelaku bisnis tersebut adalah manusia-manusia yang ber-Tuhan dan beragama. Karena tidak satu pun agama di dunia ini yang membenarkan perilaku bsinis demikian. Hal ini bisa dikatakan penipuan terhadap manusia ‘dewasa’ dan kejahatan pembunuhan terhadap manusia ‘anak’ tidak berdosa. Karena para orang tua berharap anaknya bisa lebih sehat dan bertumbuhkembang dengan baik dengan meminum susu formula yang menguras kocek tidak sedikit (kita tahu harga susu tidaklah murah), malah menyuguhkan anaknya untuk sebuah produk yang mematikan. Sungguh produsen yang tidak berperikemanusiaan !

Faktanya; Pemerintah, LSM dan YLKI pun telah berteriak keras tentang hal ini, namun tetap tidak diindahkan, maka pertanyaannya sekarang adalah ‘kemana hati nurani para produsen itu ? Apakah mereka juga manusia yang punya mata, telinga dan hati ?’ Inilah barangkali yang menjadi pertanyaan dalam hati kita bila melihat berita-berita miris tentang produk-produk yang tidak menyehatkan bagi anak masih tetap saja beredar di pasaran.

Barangkali, akhirnya keputusan adalah di tangan para konsumen sendiri ketika himbauan dan tanggungjawab moril sudah tidak didindahkan lagi dan tidak ada kompromi lagi. Maka tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi ketika produsen sudah buta, tuli, tidak punya hati dan tanggung jawab moril. Itulah satu-satunya jalan terbaik bagi umat di bumi ini, dengan tidak berputus asa dan senantiasa berdo’a kepada Sang Pencipta untuk mengganti para produsen biadab tersebut dengan produsen yang lebih baik dan bertanggung jawab secara moril dan materil.

Bukan hanya Produk Jajanan Anak

Sebenarnya, kejahatan para produsen ini bukanlah hanya pada produk jajanan anak saja, tetapi untuk konsumen dewasa pun demikian pula. Fakta dan berita yang akurat telah jelas di hadapan kita tentang produk Jamu Oplosan yang menghancurkan organ tubuh dan mematikan. Juga bahan bangunan berupa Semen Oplosan pun telah beredar di salah satu wilayah di Indonesia ini. Sehingga bangunan rumah yang diharapkan dapat melindungi keluarga dari hujan dan panas, malah meruntuhkan bangunan dan menimbun keluarga dengan tembok dan bebatuan karena kerekatan semen yang digunakan tidak layak pakai dan tidak memenuhi syarat bangunan. Luar biasa kejahatan produsen yang tidak bertanggung jawab !. Berhati-hatilah para konsumen bila hendak memilih produk apa pun. Lihatlah garansi dan standarisasinya.

Penutup

Apa pun ceritanya, bagi para pengusaha/produsen yang tidak jujur dan tidak bertanggung jawab, maka selamanya tidak akan pernah bisa menjadi pengusaha/produsen yang sukses. Sebagaimana Sang Pakar Wirausaha-Andrie Wongso- merumuskan hal ini dalam Delapan Rahasia Sukses Berwirausaha. Diantaranya harus memiliki sikap mental sukses, kekuatan produk (the 1st, the best, the difference, unique dan special), kekuatan karakter (jujur, bertanggungjawab) dan kekuatan spiritual.

Buktinya, kita telah melihat dan mendengar berita tentang produsen ‘susu formula anak’ yang tidak jujur dan tidak bertanggung jawab telah mendapat hukuman mati di sebuah Negara. Itu baru hukum dunia, belum lagi hukum akhiratnya.!. Maka tidak ada kata ‘sukses’ bagi mereka, melainkan ‘kehancuran dan kematian’, karena itulah yang mereka lakukan kepada para konsumen. Dan tidaklah kebaikan dan kejahatan itu melainkan untuk dirinya sendiri !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: