Banjir (1)

 

(Cat :telah dimuat di Harian Analisa,19 Sept’2010)

segerombolan makhluk-Mu

berjejalan dan memaksa masuk

merembesi pintu rumahku

 

banjir itu

berdesakan himpit menghimpit

memenuhi seluruh ruangan

begitu cepatnya

menyentuh dan mencemari segala apa yang ada

layaknya tamu tak diundang

penuh ketaksopanan

merajalela puas

dan melenggang pergi dengan jejak lumpur hitam

 

nyut ! rasa hatiku

itulah mau-Mu

meluluhlantakkan

hatiku berdebar kencang

 

marahkah aku ?

menjauhkah aku dari-Mu ?

lunglai tak berdaya

aku merintih

peluklah aku dalam keperkasaaan-Mu

meskipun sakit dan pahit yang kau beri

cintaku takkan pernah pudar

kepada-Mu

selamanya

 

oooOooo

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: