MENGHIDUPKAN RAMADHAN DI BULAN-BULAN LAIN

 

 

(Cat : telah dimuat di Harian Analisa, Mimbar Islam, 19 Sept’2010)

Tanpa terasa, Ramadhan akan segera berlalu dari pelukan kita. Berat rasanya dan ingin terus mendekapnya agar hari-hari kita tetap semarak dan indah dikarenakan keberkahan bulan mulia ini. Namun apa daya, waktu bergulir dan berputar menurut kehendak-Nya.

Kalau ditanya, barangkali kebanyakan orang, pasti inginnya sepanjang tahun Ramadhan terus. Tapi kita tidak mungkin menghentikan berputarnya waktu agar tetap pada posisinya. Yang akan menimbulkan ketidakstabilan. Tidak adanya pergantian musim panas, dingin dan semi. Hidup juga akan jadi gersang. Pergantian waktu dan musim itulah yang membuat hari-hari tertentu-dalam hal ini Ramadhan- menjadi lebih sangat berharga. Momen kekhusyukan beribadah dan berbagi.

Sebenarnya, sebagai manusia yang diciptakan Allah SWT  dengan penuh kesempurnaan dan kemuliaan dari makhluk lain, membuat kita mampu untuk memikirkan dengan akal.  Bagaimana getar-getar indah bulan yang mulia ini dapat juga tercipta dan terakumulasikan di bulan-bulan lain. Inilah yang harus  kita perjuangkan. Ketika pada bulan Ramadhan kita mampu memenuhi mesjid pada shalat-shalat fardhu, terutama pada shalat Isya’ dan Tarawih. Bertadarrus pada malam hari bagi bapak-bapak dan bagi ibu-ibu selesai shalat shubuh. Indah sekali rasanya ! Juga para ibu rumah tangga menyediakan makan berbuka puasa dan snack untuk tadarrusan malam hari dengan bergiliran diantar ke mesjid. Subhanallah, bulan penuh sedekah ! Menimbulkan rasa berbagi di antara kita. Dan inginnya kita, suasana bahagia dan peduli ini, jangan segera sirna dari hadapan kita. Begitu juga dengan shalat malam, tilawah dan tadabbur  al-Qur’an dan dzikir.

Permasalahannya sekarang, bagaimana amalan-amalan yang biasa kita lakukan pada bulan mulia Ramadhan, bisa tetap kita lakukan pada bulan-bulan lainnya. Satu hal yang kita lupakan bahwa Allah SWT sangat senang kepada hamba yang ibadahnya rutin. Bukan pada banyaknya, tapi pada kerutinannya. Misalnya, tilawah dan tadabbur al-Qur’an rutin setiap hari meskipun sedikit. Itulah yang coba kita terapkan pada bulan-bulan lain di luar Ramadhan. Amalan yang rutin, meskipun sedikit. Sehingga apa-apa yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan, juga dilakukan di bulan-bulan lainnya.

Keberhasilan manusia sebagai pemenang di bulan Ramadhan adalah diterimanya puasanya oleh Allah SWT. Karena, ada puasa yang tidak diterima. Ciri-ciri orang yang puasanya diterima adalah apa yang terlintas dalam benaknya selama dia melakukan ibadah puasa. Apakah pikiran yang semakin bersih? Tidak terkotori oleh hawa nafsu dan unsur cinta dunia yang berlebihan. Selain itu juga, ciri-ciri diterimanya puasa seseorang adalah apakah ada peningkatan ketakwaan dalam diri dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Peningkatan ketakwaan ini adalah setara dengan menaiknya derajat ruhaniah diri sehingga ada keinginan untuk mempertahankan amalan-amalan yang telah dilaksanakan selama bulan Ramadhan untuk tetap berusaha melaksanakannya di bulan-bulan lain. Jelas kalau shalat Tarawih, tidak termasuk dalam hal ini. Tapi puasa sunnah, shalat-shalat sunnah, tilawah dan tadabbur al-Qur’an, dzikir dan sedekah.

Kebanyakan yang berlaku dalam masyarakat kita selama ini adalah ketika berlalunya  Ramadhan, maka mesjid pun kembali sepi. Dan rasa berbagi kita pun menguap entah kemana. Shalat sunnah dan sedekah pun seakan terlupakan. Juga al-Qur’an, hanya  terpajang di atas lemari. Apabila ada orang yang meninggal, barulah al-Qur’an  kita turunkan dan kita bacakan. Setelah itu  kita pajang lagi di atas lemari atau semacamnya. Singkatnya, al-Qur’an kita turunkan dan  kita bacakan adalah karena ada dan untuk orang meninggal. Padahal, al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penyembuh. Jelas artinya bahwa petunjuk dan penyembuh itu diperuntukkan bagi orang yang masih hidup, bukan bagi orang yang telah mati. Petunjuk dan penyembuh, tidak diperlukan lagi oleh orang yang telah mati. Bahkan, kalau orang yang telah mati itu minta petunjuk dan penyembuh kepada kita, tentu kita akan lari terbirit-birit meninggalkannya. Inilah hal salah yang selalu kita lakukan dalam perjalanan hidup kita. Kesalahan yang bisa kita perbaiki, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Bahwa  orang yang hiduplah yang sangat membutuhkan al-Qur’an.

Banyak keuntungan dan manfaat dari membaca, menghafal dan mentadabburi al-Qur’an. Diantaranya : rumah kita akan terang benderang, tidak seperti kuburan. Di kelilingi oleh para malaikat. Mendapat cucuran rahmat. Senantiasa berkomunikasi dengan Allah SWT. Mendapat syafaat di hari Kiamat untuk memasuki surga. Juga dikatakan kepada ahli al-Qur’an, bila telah berada di dalam surga ,”Bacalah”. Lalu dia membaca ayat demi ayat al-Qur’an yang telah dihafalnya. Maka, pada setiap ayat yang dibacanya, dia naik satu tingkat pada tingkatan surga di atasnya. Begitu seterusnya sampai akhir ayat yang dibaca. Itulah beberapa keutamaan bagi orang-orang yang suka membaca, mentadabburi dan menghafal al-Qur’an.

Penutup

Ketika malam al-Qadar pada bulan Ramadhan, takdir tiap-tiap manusia untuk  tahun sekarang sampai tahun berikutnya diturunkan dari Kitab Lauhul Mahfudz di Baitul Ba’ats ke Langit Dunia di Baitul Izzah. Semua telah ditentukan dan digariskan. Hanya saja kita tidak mengetahui, akan jadi apa kita ke depan terhitung mulai malam al-Qadar Ramadhan ini. Itulah hal terbaik bagi kita. Karena kalau kita telah mengetahui akan jadi apa kita nantinya, tentu kita tidak akan berusaha. Oleh karena itu, kita tentukan sendiri pilihan kita, mau jadi apa kita nantinya setelah berlalunya Ramadhan ini. Apakah akan melakukan amalan-amalan Ramadhan pada bulan-bulan lainnya ataukah tidak ? Tergantung pada pilihan kita. Keutamaan-keutamaan amalannya telah kita ketahui.

Wallahu’alam bishshowab !

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: