MANUSIA DAN TELEVISI

 

(Cat: telah dimuat di Harian Analisa, Mimbar Islam, 9 Juli 2010)

Seru sekali dalam dua pekan ini membaca halaman Mimbar Islam di harian ini yang menohok perhelatan akbar Piala Dunia sebagai momok yang menelantarkan ibadah/shalat bagi umat Islam yang gila bola.

Hal di atas menyebabkan penulis merenungkan  tentang  kebenaran pandangan yang diberikan oleh Nabi Musa A.S kepada Nabi Muhammad SAW bahwa umatnya tidak akan sanggup melaksanakan ibadah shalat meskipun hanya lima kali sehari itu yang masing-masingnya memakan waktu lebih kurang lima belas menit.

Kalau dihitung-hitung; 5 x 15 menit  untuk melaksanakan shalat dibandingkan dengan waktu 24 jam sehari, maka hanya 1 jam ¼ menit waktu untuk shalat sehingga tersisa 22 jam ¾ menit untuk kegiatan kehidupan lainnya. Perhitungan ini sebenarnya menunjukkan ketidak-adilan manusia kepada dirinya sendiri. Ini yang tidak disadari  oleh manusia yaitu keseimbangan perhatian dan konsentrasi untuk dunianya dan akhirat tidak normal.

Banyak faktor yang mempengaruhi ketidaknormalan keseimbangan ini. Prediksi Nabi Musa A.S itu penulis renungkan dengan memperbandingkan bahwa zaman pada masa turunnya perintah shalat itu dengan zaman sekarang sangatlah jauh berbeda. Contohnya saja, pada masa itu kegiatan manusia hanya mencari nafkah, mengurus rumah dan keluarga, lalu selebihnya bisa beribadah sepuas mungkin atau juga mengadakan perkumpulan agama/sosial, rekreasi atau liburan (bila ada-red). Itu saja secara global kegiatan kala itu.

Tapi sekarang – di era globalisasi ini, dunia sudah semakin mengglobal sehingga apa pun yang terjadi di belahan bumi lain sudah dapat dilihat di hadapan kita pada saat bersamaan ‘live’ dan tidak perlu menunda waktu dan berangkat ke lokasi kejadian untuk mengetahuinya. Inilah peranan besar televisi bagi manusia. Sehingga kalau kita perhatikan, maka sepertinya hampir semua rumah memiliki televisi, baik yang miskin apalagi yang kaya bisa memiliki lebih dari 1 tv. Maka jadilah televisi sebagai penghantar berita terbaik dan penghibur utama saat ini bagi semua kalangan.

Nah, peranan televisi menjadi  semakin mencuat dan  berjaya dengan kehadiran event Piala Dunia Afrika Selatan 2010 ini. Pertandingan itu disiarkan langsung tanpa tunda semenit pun di hadapan kita tanpa harus membeli tiket pesawat dan tiket masuk, melainkan cukup dengan memiliki atau membeli  1 bh televisi. Maka tak heranlah bila sebulan sebelum event Piala Dunia digelar, seorang SATPAM di kantor saya bela-belain membeli sebuah televisi baru  dengan mengkredit selama 10 bulan (karena tidak punya uang untuk membayar cash-red). Bayangkan,  10 bulan harus menyisihkan uang belanja hanya untuk membayar kredit televisi karena kehadiran ‘sosok piala dunia’.

Mungkin kita yang bukan gila bola akan geleng kepala memikirkan fakta di atas. Pertanyaannya sekarang adalah ‘apakah kalau tidak ada tv yang meliput siaran langsung dan tunda Piala Dunia itu, masyarakat kita akan gila bola seperti itu ? Jawabannya bisa ‘ya’ bisa ‘tidak’, karena sebelum adanya tv kita bisa mendengar siaran langsung dan tunda itu dari radio.  Jelas tidak memuaskan karena tidak dapat melihat langsung objeknya.

Itulah hebatnya tv ini ! Sangkin hebatnya, bisa melalaikan manusia dari aktivitas-aktivitas kesehariannya, terutama opini yang muncul di harian ini tentang kelalaian manusia dalam  melaksanakan shalat karena jam tayang yang bersamaan dengan waktu shalat yang hampir mencakup seluruh waktu shalat fardhu. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah !. Maka tak heranlah bila  Rachmat Ramadhana Al-Banjari ‘memasukkan tv ke dalam katagori wujud Iblis’. (lihat Rachmat Ramadhana Al-Banjari, Psikologi Iblis, hal. 236, 2007).

Peranan Iblislah yang melalaikan kita dari tanggung jawab kepada Allah. Yang membuat kita lupa akan sumpah Iblis bahwa ‘dia akan menggoda anak cucu Adam A.S untuk menjadi sekutu baginya yang akan menemaninya beramai-ramai di dalam neraka’.

Iblislah yang membuat kita terlena  dan mabuk dengan segala fasilitas dan sarana/teknologi yang ada pada kita.  Sehingga kita lupa bahwa dibalik fasilitas dan sarana ini,  ada sebuah dunia lain yang akan mensortir kita dari nilai tanggung jawab kepada Sang Pencipta.

Kita juga lupa bahwa fasilitas dan sarana di dunia lain itu sangat sangat sangat jauh lebih baik dan membahagiakan dan kekal tak berkesudahan dibandingkan dengan yang ada di dunia sekarang ini. Itu semua dapat kita miliki dengan ‘prestasi raport’ yang kita peroleh dari catatan perilaku kita di dunia saat ini.

Tapi kenapa kita tidak mengejar prestasi itu dan lalai terhadap persiapannya ? Padahal di dunia inilah saatnya kita berpacu meraih prestasi dan predikat terbaik sebagai insan Tuhan ?  Inilah yang perlu menjadi  bahan perenungan kita.

 

Bukan hanya Piala Dunia

Kalau kita amati dan perhatikan dengan serius pada diri, keluarga dan masyarakat kita, maka sebenarnya bukan hanya jam tayang Piala Dunia saja yang membuat kita menjadi manusia yang lalai sebagai insan Tuhan. Tetapi juga hampir keseluruhan acara tv lainnya juga membuat kita tak hendak beranjak dari hadapan  ‘benda yang bernama tv’ itu. Tak ada batasan usia yang berperilaku demikian. Anak-anak dengan acara film kartun, cerita anak, sinetron anak, aktivitas anak dan info anak lainnya. Yang bisa dikatakan sedikit sekali nilai edukasinya bagi anak. Begitu juga bagi remaja, dewasa dan lansia yang terkena imbas ‘lengket keseharian’ di depan tv.

Masalahnya adalah karena  stasiun tv juga saling berpacu menyajikan acara hiburan dan berita terkini/akurat bagi para pemirsanya. Sehingga setelah canel 1 selesai dengan acara yang mengasyikkan maka kita berpindah ke canel 2, 3 dst .… sampai ke canel 14 dengan acara tayang yang berbeda dan mengasyikkan yang non-stop 24 jam dalam sehari atau paling tidak jeda dari pukul 03.00 s.d 05.00 WIB. Perhatikan dan buktikan hal ini dalam keseharian kita. Apakah meleset dari yang penulis paparkan ini ?

Merenungi fenomena ini, sampai-sampai penulis memikirkan ‘apakah Tuhan Yang Maha Pengampun memberikan perbedaan penilaian terhadap manusia sesuai dengan zaman berkembang ?’. Kilmaks dan down-nya,  penulis ingin berharap demikian kepada Tuhan. Bayangkan, betapa enaknya zaman ketika perintah shalat itu  diturunkan. Ada Rasulullah SAW di sisi kita sehingga kita bisa bertanya sepuas mungkin tentang masalah agama ini. Manusia juga tidak disibukkan dengan siaran tv, cd, internet, HP dan sarana teknologi canggih lainnya sehingga setelah selesai mencari nafkah, mengurus keluarga, kita bisa istirahat dan beribadah sepuas mungkin.

Tapi apakah benar itu akar permasalahan sebenarnya ? Apakah bila kita hidup di zaman kala itu, memang kita akan banyak bertanya kepada Rasulullah SAW tentang persoalan agama dan tekun beribadah ? Jelas belum tentu, karena dari sejarah kenabian kita juga mendengar bahwa ada manusia-manusia yang tidak peduli bahkan membenci Rasulullah SAW serta lalai dalam beribadah.

Tak ada kata lain, barangkali ‘dispensasi’ dari Tuhan lah kepada kita untuk mempertimbangkan perkembangan zaman dalam penilaian ibadah kita. Karena kita juga pernah mendengar sabda Rasulullah SAW  yang mengatakan bahwa ‘nilai sedekah seribu rupiah dari seorang yang kaya berbeda dengan nilai sedekah seribu rupiah dari seorang yang miskin’. Dalam hal ini, nilai bagi si miskin lebih besar dari nilai bagi si kaya.

Begitulah pengharapan sekaligus do’a penulis, semoga Tuhan Yang Maha Bijaksana memberikan perbedaan nilai dalam beribadah bagi manusia sesuai dengan perkembangan zamannya. Semakin maju dan canggih zaman itu, maka semakin beratlah godaan dalam melaksanakan ibadah sehingga nilai ibadahnya semakin tinggi. Tapi semua kita serahkan saja kepada iradah dan rahmat Allah SWT.

 

Wallahu’alam bishshowab !

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: