Konsep Taman Wudhu’, Inginkah ?

(cat : telah dimuat di Harian Analisa, Mimbar Islam, 8 Oktober 2010)

Mesjid Luar Kota bagi Musafir

Hal yang paling menyenangkan bagi penulis saat melakukan perjalanan ke luar kota (rekreasi atau silaturrahmi-red) bersama keluarga adalah ketika singgah untuk shalat di sebuah mesjid dan mendapati kamar mandi mesjid yang bersih dan rapi. Satu kamar mandi mesjid yang mengesankan penulis adalah di sebuah mesjid yang mungil namun megah dan anggun terletak di Kabupaten “SB” (sebelah kiri bila perjalanan dari Medan-red). Halamannya rapi dan bersih, dihiasi tetumbuhan bunga, rerumputan dan kerikil-kerikil putih di sekelilingnya. Pada teras belakangnya ada perpustakaan mungil berupa area santai beratap tapi tak berdinding dilengkapi dengan sebuah lemari gantung mungil yang berisi sederet buku agama dan satu set (12 jilid-red) Tafsir fi Dzilalil Qur’an “Sayyid Quthb”. Yang menarik dalam hal ini bagi penulis adalah pada halaman pertama tafsir-tafsir itu bertuliskan sumbangan dari Bupati “SB”.

Di depan lemari buku itu ada sebuah meja kecil dan beberapa buah kursi untuk membaca. Juga di seberangnya ada sebuah meja yang di atasnya diletakkan sebuah dispenser aqua dan beberapa cangkir plastik untuk minuman para musafir yang singgah untuk shalat dan mengaso di mesjid itu. Subhanallah, rasanya betul-betul para musafir dimanjakan dengan fasilitas religius yang menyejukkan dan meluaskan wawasan keagamaan.

Disamping itu, kamar mandinya juga memuaskan. Lantai keramik, bak air, saluran pembuangan air dan airnya semua dalam keadaan bersih dan dengan kombinasi warna lantai dan dinding yang berwarna hijau, krem, kuning dan coklat muda yang menyegarkan. Rasanya cukup memuaskan singgah di mesjid itu untuk shalat sekaligus mengaso sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.

Mendapati mesjid yang memuaskan demikian, penulis jadi tertarik memperhatikan program-program Kabupaten “SB” tersebut di media cetak. Dan ketika penyelenggaraan pameran di Pekan Raya Sumut 2010 penulis berjumpa dengan salah seorang Penanggungjawab Pameran di Stand Kabupaten “SB”, penulis memberikan komentar pujian terhadap mesjid dan perpustakaan mungilnya serta sumbangan 1 set Tafsir fi Dzilalil Qur’an dari Sang Bupati untuk mengisi perpustakaan mungil itu. Kami berbincang panjang tentang program-program Kabupaten “SB” yang masih muda namun sudah merambah dan berkembang pesat dengan program-programnya (teknologi dan sosial kemasyarakatan-red). Satu program yang sangat menarik perhatian penulis adalah program mereka yang masih belum tercapai yaitu mengumpulkan 70 orang hafidz (penghafal al-Qur’an-red). Subhanallah !

Taman Wudhu’

Sebenarnya ada banyak mesjid di pinggiran atau luar kota yang penulis jumpai dan masuki, yang kesimpulannya dapat penulis ambil adalah kamar mandi – kamar mandinya jauh lebih baik dan menyegarkan dari kamar mandi-kamar mandi mesjid di kota penulis. Diantaranya ada yang kamar mandinya dilengkapi beberapa batu duduk setinggi + 75 cm di depan kran airnya agar ketika mengusap kaki dalam berwudhu’ bisa lebih memudahkan.

Dapat dimaklumi bila kamar mandi mesjid di pinggiran atau luar kota jauh lebih baik dan menyegarkan, karena kebanyakannya mesjid-mesjid itu kondisi bangunannya baru sehingga mengikuti perkembangan rancangan design terkini dan memenuhi syarat. Hal ini menimbulkan pertanyaan di hati penulis, bilakah kamar mandi mesjid di kota penulis direnovasi dan di design ulang sehingga lebih menyegarkan dan menyenangkan apalagi ketika antri dalam berwudhu’ dengan jamaah yang banyak ?

Persoalannya, ketika penulis Iktikaf di mesjid “A” pada sepuluh terakhir Ramadhan, jumlah jamaah wanita bisa mencapai lebih 300 orang sehingga penulis selalu merasa tak nyaman bila antri mengambil wudhu’ dengan kapasitas jumlah kamar kecilnya hanya 4 buah dan kran air wudhu’ tersedia hanya 8 buah serta saluran air yang tersumbat dan tergenang. Luar biasa beratnya hati bila hendak berwudhu’ membayangkan ketaknyamanan demikian, padahal kita harus selalu dalam keadaan suci dan memperbaharui wudhu’. Kalau sudah begini, timbullah keinginan di hati penulis, seandainya saja ada hartawan yang dermawan dan sponsor konsultan bangunan yang akan membiayai dan merancang ulang kamar mandi itu.

Misalnya saja, bak bulat besar sebagai penampung air yang berada di tengah ruangan kamar mandi di mesjid “A” itu sangatlah memakan tempat, dapat dirancang ulang menjadi bak gantung sehingga ruangan menjadi lapang dan bahkan bisa dibuat 5 kamar kecil berderet di sebelah kirinya sehingga semula hanya ada 4 buah menjadi 9 buah kamar kecil. Sementara itu, keempat tiang yang menopang bak gantung itu, pada keempat sisinya di masing-masing tiang dapat dibuat 4 buah kran air wudhu’ sehingga 4 x 4 berjumlah 16 buah. Lalu, saluran air yang tersumbat dapat dibongkar ulang dan diganti dengan riol ukuran besar dan penutup lubang saluran yang bersaring sehingga sampah tidak mudah masuk ke saluran.

Kemudian, untuk keindahan dan kesegaran area kamar mandi dapat didekor dengan bunga-bunga plastik yang menjulur ke bawah di setiap sudut utama pada ¼ bagian atas dinding dan di masing-masing sisi bak gantung dengan menggunakan vas bunga plastik dengan model yang menempel ke dinding. Bunga-bunga plastik ini tidaklah mahal harganya, berkisar Rp 50.000,- s.d Rp 100.000,- per vas bunga, tetapi sudah dapat digunakan bertahun-tahun karena bisa dicuci sehingga dengan perhitungan ekonomis ini sudah sangat menguntungkan nilai keindahan dan kesegaran ruangan kamar mandi. Yang penting pemilihan warna dan model bunganya. Kalaulah sudah indah dan segar begini kamar mandi mesjid kita, maka bagaikan sebuah taman wudhu’ sehingga dapat dibayangkan betapa ‘kemaruknya’ jamaah berwudhu sehingga senantiasa dalam keadaan suci dan memperbaharui wudhu’.

Penutup

Di tiga titik sudut bath tube di kamar mandi rumah penulis yang sederhana, penulis letakkan tiga vas bunga kecil ditata dengan bunga plastik dengan pola oval, setengah bundar dan vertical dengan kombinasi warna merah, putih, hijau dan orange sehingga memberikan nuansa cerah, segar dan indah meskipun kamar mandi tersebut sederhana dan tidak mewah dengan ukuran ruangan 2 ½ x 2 m (ukuran ini dengan mempertimbangkan bila suatu saat penulis meninggal dunia agar tidak terlalu sempit bagi bilal dan keluarga memandikan jenazah penulis -red).

Sehubungan dengan konsep taman wudhu’, di senta bak air kamar mandi di rumah kakak penulis, juga berjejer beberapa buah vas bunga kecil berisikan tetumbuhan dedaunan hijau sehingga memberikan suasana nyaman, sejuk dan fresh.

Selaras dengan itu, inginkah kita kamar mandi di mesjid-mesjid kita bagaikan taman-taman wudhu’ ? Semua berpulang pada keinginan kita. Ada keinginan, ada konsep, dan ada usaha, maka jadilah taman-taman wudhu’ menghiasi setiap kamar mandi di mesjid-mesjid kita sehingga menimbulkan kenyamanan dan kesegaran bagi kita meskipun pada saat-saat dalam antrian padat dan berlapis. Atau sebaliknya, tak ada keinginan, tak ada konsep, dan tak ada usaha, maka engganlah kita ke kamar mandi mesjid kita. Pilih yang manakah kita ?

Wallahu’alam bishshowab !

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: