MANUSIA DAN TELEVISI

 

(Cat: telah dimuat di Harian Analisa, Mimbar Islam, 9 Juli 2010)

Seru sekali dalam dua pekan ini membaca halaman Mimbar Islam di harian ini yang menohok perhelatan akbar Piala Dunia sebagai momok yang menelantarkan ibadah/shalat bagi umat Islam yang gila bola.

Hal di atas menyebabkan penulis merenungkan  tentang  kebenaran pandangan yang diberikan oleh Nabi Musa A.S kepada Nabi Muhammad SAW bahwa umatnya tidak akan sanggup melaksanakan ibadah shalat meskipun hanya lima kali sehari itu yang masing-masingnya memakan waktu lebih kurang lima belas menit.

Kalau dihitung-hitung; 5 x 15 menit  untuk melaksanakan shalat dibandingkan dengan waktu 24 jam sehari, maka hanya 1 jam ¼ menit waktu untuk shalat sehingga tersisa 22 jam ¾ menit untuk kegiatan kehidupan lainnya. Perhitungan ini sebenarnya menunjukkan ketidak-adilan manusia kepada dirinya sendiri. Ini yang tidak disadari  oleh manusia yaitu keseimbangan perhatian dan konsentrasi untuk dunianya dan akhirat tidak normal.

Banyak faktor yang mempengaruhi ketidaknormalan keseimbangan ini. Prediksi Nabi Musa A.S itu penulis renungkan dengan memperbandingkan bahwa zaman pada masa turunnya perintah shalat itu dengan zaman sekarang sangatlah jauh berbeda. Contohnya saja, pada masa itu kegiatan manusia hanya mencari nafkah, mengurus rumah dan keluarga, lalu selebihnya bisa beribadah sepuas mungkin atau juga mengadakan perkumpulan agama/sosial, rekreasi atau liburan (bila ada-red). Itu saja secara global kegiatan kala itu.

Tapi sekarang – di era globalisasi ini, dunia sudah semakin mengglobal sehingga apa pun yang terjadi di belahan bumi lain sudah dapat dilihat di hadapan kita pada saat bersamaan ‘live’ dan tidak perlu menunda waktu dan berangkat ke lokasi kejadian untuk mengetahuinya. Inilah peranan besar televisi bagi manusia. Sehingga kalau kita perhatikan, maka sepertinya hampir semua rumah memiliki televisi, baik yang miskin apalagi yang kaya bisa memiliki lebih dari 1 tv. Maka jadilah televisi sebagai penghantar berita terbaik dan penghibur utama saat ini bagi semua kalangan.

Nah, peranan televisi menjadi  semakin mencuat dan  berjaya dengan kehadiran event Piala Dunia Afrika Selatan 2010 ini. Pertandingan itu disiarkan langsung tanpa tunda semenit pun di hadapan kita tanpa harus membeli tiket pesawat dan tiket masuk, melainkan cukup dengan memiliki atau membeli  1 bh televisi. Maka tak heranlah bila sebulan sebelum event Piala Dunia digelar, seorang SATPAM di kantor saya bela-belain membeli sebuah televisi baru  dengan mengkredit selama 10 bulan (karena tidak punya uang untuk membayar cash-red). Bayangkan,  10 bulan harus menyisihkan uang belanja hanya untuk membayar kredit televisi karena kehadiran ‘sosok piala dunia’.

Mungkin kita yang bukan gila bola akan geleng kepala memikirkan fakta di atas. Pertanyaannya sekarang adalah ‘apakah kalau tidak ada tv yang meliput siaran langsung dan tunda Piala Dunia itu, masyarakat kita akan gila bola seperti itu ? Jawabannya bisa ‘ya’ bisa ‘tidak’, karena sebelum adanya tv kita bisa mendengar siaran langsung dan tunda itu dari radio.  Jelas tidak memuaskan karena tidak dapat melihat langsung objeknya.

Itulah hebatnya tv ini ! Sangkin hebatnya, bisa melalaikan manusia dari aktivitas-aktivitas kesehariannya, terutama opini yang muncul di harian ini tentang kelalaian manusia dalam  melaksanakan shalat karena jam tayang yang bersamaan dengan waktu shalat yang hampir mencakup seluruh waktu shalat fardhu. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah !. Maka tak heranlah bila  Rachmat Ramadhana Al-Banjari ‘memasukkan tv ke dalam katagori wujud Iblis’. (lihat Rachmat Ramadhana Al-Banjari, Psikologi Iblis, hal. 236, 2007).

Peranan Iblislah yang melalaikan kita dari tanggung jawab kepada Allah. Yang membuat kita lupa akan sumpah Iblis bahwa ‘dia akan menggoda anak cucu Adam A.S untuk menjadi sekutu baginya yang akan menemaninya beramai-ramai di dalam neraka’.

Iblislah yang membuat kita terlena  dan mabuk dengan segala fasilitas dan sarana/teknologi yang ada pada kita.  Sehingga kita lupa bahwa dibalik fasilitas dan sarana ini,  ada sebuah dunia lain yang akan mensortir kita dari nilai tanggung jawab kepada Sang Pencipta.

Kita juga lupa bahwa fasilitas dan sarana di dunia lain itu sangat sangat sangat jauh lebih baik dan membahagiakan dan kekal tak berkesudahan dibandingkan dengan yang ada di dunia sekarang ini. Itu semua dapat kita miliki dengan ‘prestasi raport’ yang kita peroleh dari catatan perilaku kita di dunia saat ini.

Tapi kenapa kita tidak mengejar prestasi itu dan lalai terhadap persiapannya ? Padahal di dunia inilah saatnya kita berpacu meraih prestasi dan predikat terbaik sebagai insan Tuhan ?  Inilah yang perlu menjadi  bahan perenungan kita.

 

Bukan hanya Piala Dunia

Kalau kita amati dan perhatikan dengan serius pada diri, keluarga dan masyarakat kita, maka sebenarnya bukan hanya jam tayang Piala Dunia saja yang membuat kita menjadi manusia yang lalai sebagai insan Tuhan. Tetapi juga hampir keseluruhan acara tv lainnya juga membuat kita tak hendak beranjak dari hadapan  ‘benda yang bernama tv’ itu. Tak ada batasan usia yang berperilaku demikian. Anak-anak dengan acara film kartun, cerita anak, sinetron anak, aktivitas anak dan info anak lainnya. Yang bisa dikatakan sedikit sekali nilai edukasinya bagi anak. Begitu juga bagi remaja, dewasa dan lansia yang terkena imbas ‘lengket keseharian’ di depan tv.

Masalahnya adalah karena  stasiun tv juga saling berpacu menyajikan acara hiburan dan berita terkini/akurat bagi para pemirsanya. Sehingga setelah canel 1 selesai dengan acara yang mengasyikkan maka kita berpindah ke canel 2, 3 dst .… sampai ke canel 14 dengan acara tayang yang berbeda dan mengasyikkan yang non-stop 24 jam dalam sehari atau paling tidak jeda dari pukul 03.00 s.d 05.00 WIB. Perhatikan dan buktikan hal ini dalam keseharian kita. Apakah meleset dari yang penulis paparkan ini ?

Merenungi fenomena ini, sampai-sampai penulis memikirkan ‘apakah Tuhan Yang Maha Pengampun memberikan perbedaan penilaian terhadap manusia sesuai dengan zaman berkembang ?’. Kilmaks dan down-nya,  penulis ingin berharap demikian kepada Tuhan. Bayangkan, betapa enaknya zaman ketika perintah shalat itu  diturunkan. Ada Rasulullah SAW di sisi kita sehingga kita bisa bertanya sepuas mungkin tentang masalah agama ini. Manusia juga tidak disibukkan dengan siaran tv, cd, internet, HP dan sarana teknologi canggih lainnya sehingga setelah selesai mencari nafkah, mengurus keluarga, kita bisa istirahat dan beribadah sepuas mungkin.

Tapi apakah benar itu akar permasalahan sebenarnya ? Apakah bila kita hidup di zaman kala itu, memang kita akan banyak bertanya kepada Rasulullah SAW tentang persoalan agama dan tekun beribadah ? Jelas belum tentu, karena dari sejarah kenabian kita juga mendengar bahwa ada manusia-manusia yang tidak peduli bahkan membenci Rasulullah SAW serta lalai dalam beribadah.

Tak ada kata lain, barangkali ‘dispensasi’ dari Tuhan lah kepada kita untuk mempertimbangkan perkembangan zaman dalam penilaian ibadah kita. Karena kita juga pernah mendengar sabda Rasulullah SAW  yang mengatakan bahwa ‘nilai sedekah seribu rupiah dari seorang yang kaya berbeda dengan nilai sedekah seribu rupiah dari seorang yang miskin’. Dalam hal ini, nilai bagi si miskin lebih besar dari nilai bagi si kaya.

Begitulah pengharapan sekaligus do’a penulis, semoga Tuhan Yang Maha Bijaksana memberikan perbedaan nilai dalam beribadah bagi manusia sesuai dengan perkembangan zamannya. Semakin maju dan canggih zaman itu, maka semakin beratlah godaan dalam melaksanakan ibadah sehingga nilai ibadahnya semakin tinggi. Tapi semua kita serahkan saja kepada iradah dan rahmat Allah SWT.

 

Wallahu’alam bishshowab !

MENGHIDUPKAN RAMADHAN DI BULAN-BULAN LAIN

 

 

(Cat : telah dimuat di Harian Analisa, Mimbar Islam, 19 Sept’2010)

Tanpa terasa, Ramadhan akan segera berlalu dari pelukan kita. Berat rasanya dan ingin terus mendekapnya agar hari-hari kita tetap semarak dan indah dikarenakan keberkahan bulan mulia ini. Namun apa daya, waktu bergulir dan berputar menurut kehendak-Nya.

Kalau ditanya, barangkali kebanyakan orang, pasti inginnya sepanjang tahun Ramadhan terus. Tapi kita tidak mungkin menghentikan berputarnya waktu agar tetap pada posisinya. Yang akan menimbulkan ketidakstabilan. Tidak adanya pergantian musim panas, dingin dan semi. Hidup juga akan jadi gersang. Pergantian waktu dan musim itulah yang membuat hari-hari tertentu-dalam hal ini Ramadhan- menjadi lebih sangat berharga. Momen kekhusyukan beribadah dan berbagi.

Sebenarnya, sebagai manusia yang diciptakan Allah SWT  dengan penuh kesempurnaan dan kemuliaan dari makhluk lain, membuat kita mampu untuk memikirkan dengan akal.  Bagaimana getar-getar indah bulan yang mulia ini dapat juga tercipta dan terakumulasikan di bulan-bulan lain. Inilah yang harus  kita perjuangkan. Ketika pada bulan Ramadhan kita mampu memenuhi mesjid pada shalat-shalat fardhu, terutama pada shalat Isya’ dan Tarawih. Bertadarrus pada malam hari bagi bapak-bapak dan bagi ibu-ibu selesai shalat shubuh. Indah sekali rasanya ! Juga para ibu rumah tangga menyediakan makan berbuka puasa dan snack untuk tadarrusan malam hari dengan bergiliran diantar ke mesjid. Subhanallah, bulan penuh sedekah ! Menimbulkan rasa berbagi di antara kita. Dan inginnya kita, suasana bahagia dan peduli ini, jangan segera sirna dari hadapan kita. Begitu juga dengan shalat malam, tilawah dan tadabbur  al-Qur’an dan dzikir.

Permasalahannya sekarang, bagaimana amalan-amalan yang biasa kita lakukan pada bulan mulia Ramadhan, bisa tetap kita lakukan pada bulan-bulan lainnya. Satu hal yang kita lupakan bahwa Allah SWT sangat senang kepada hamba yang ibadahnya rutin. Bukan pada banyaknya, tapi pada kerutinannya. Misalnya, tilawah dan tadabbur al-Qur’an rutin setiap hari meskipun sedikit. Itulah yang coba kita terapkan pada bulan-bulan lain di luar Ramadhan. Amalan yang rutin, meskipun sedikit. Sehingga apa-apa yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan, juga dilakukan di bulan-bulan lainnya.

Keberhasilan manusia sebagai pemenang di bulan Ramadhan adalah diterimanya puasanya oleh Allah SWT. Karena, ada puasa yang tidak diterima. Ciri-ciri orang yang puasanya diterima adalah apa yang terlintas dalam benaknya selama dia melakukan ibadah puasa. Apakah pikiran yang semakin bersih? Tidak terkotori oleh hawa nafsu dan unsur cinta dunia yang berlebihan. Selain itu juga, ciri-ciri diterimanya puasa seseorang adalah apakah ada peningkatan ketakwaan dalam diri dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Peningkatan ketakwaan ini adalah setara dengan menaiknya derajat ruhaniah diri sehingga ada keinginan untuk mempertahankan amalan-amalan yang telah dilaksanakan selama bulan Ramadhan untuk tetap berusaha melaksanakannya di bulan-bulan lain. Jelas kalau shalat Tarawih, tidak termasuk dalam hal ini. Tapi puasa sunnah, shalat-shalat sunnah, tilawah dan tadabbur al-Qur’an, dzikir dan sedekah.

Kebanyakan yang berlaku dalam masyarakat kita selama ini adalah ketika berlalunya  Ramadhan, maka mesjid pun kembali sepi. Dan rasa berbagi kita pun menguap entah kemana. Shalat sunnah dan sedekah pun seakan terlupakan. Juga al-Qur’an, hanya  terpajang di atas lemari. Apabila ada orang yang meninggal, barulah al-Qur’an  kita turunkan dan kita bacakan. Setelah itu  kita pajang lagi di atas lemari atau semacamnya. Singkatnya, al-Qur’an kita turunkan dan  kita bacakan adalah karena ada dan untuk orang meninggal. Padahal, al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penyembuh. Jelas artinya bahwa petunjuk dan penyembuh itu diperuntukkan bagi orang yang masih hidup, bukan bagi orang yang telah mati. Petunjuk dan penyembuh, tidak diperlukan lagi oleh orang yang telah mati. Bahkan, kalau orang yang telah mati itu minta petunjuk dan penyembuh kepada kita, tentu kita akan lari terbirit-birit meninggalkannya. Inilah hal salah yang selalu kita lakukan dalam perjalanan hidup kita. Kesalahan yang bisa kita perbaiki, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Bahwa  orang yang hiduplah yang sangat membutuhkan al-Qur’an.

Banyak keuntungan dan manfaat dari membaca, menghafal dan mentadabburi al-Qur’an. Diantaranya : rumah kita akan terang benderang, tidak seperti kuburan. Di kelilingi oleh para malaikat. Mendapat cucuran rahmat. Senantiasa berkomunikasi dengan Allah SWT. Mendapat syafaat di hari Kiamat untuk memasuki surga. Juga dikatakan kepada ahli al-Qur’an, bila telah berada di dalam surga ,”Bacalah”. Lalu dia membaca ayat demi ayat al-Qur’an yang telah dihafalnya. Maka, pada setiap ayat yang dibacanya, dia naik satu tingkat pada tingkatan surga di atasnya. Begitu seterusnya sampai akhir ayat yang dibaca. Itulah beberapa keutamaan bagi orang-orang yang suka membaca, mentadabburi dan menghafal al-Qur’an.

Penutup

Ketika malam al-Qadar pada bulan Ramadhan, takdir tiap-tiap manusia untuk  tahun sekarang sampai tahun berikutnya diturunkan dari Kitab Lauhul Mahfudz di Baitul Ba’ats ke Langit Dunia di Baitul Izzah. Semua telah ditentukan dan digariskan. Hanya saja kita tidak mengetahui, akan jadi apa kita ke depan terhitung mulai malam al-Qadar Ramadhan ini. Itulah hal terbaik bagi kita. Karena kalau kita telah mengetahui akan jadi apa kita nantinya, tentu kita tidak akan berusaha. Oleh karena itu, kita tentukan sendiri pilihan kita, mau jadi apa kita nantinya setelah berlalunya Ramadhan ini. Apakah akan melakukan amalan-amalan Ramadhan pada bulan-bulan lainnya ataukah tidak ? Tergantung pada pilihan kita. Keutamaan-keutamaan amalannya telah kita ketahui.

Wallahu’alam bishshowab !

Banjir (2)

 

Engkau sungguh tak percaya

padahal setiap detik aku berbisik

aku mencintai-Mu

lebih dari apa pun

 

kecemburuan-Mu

merenggut perhatian dan keasyikanku bersamanya

ultimatum-Mu

pilih Engkau atau dia !

ah, bagaimana lagi harus kurangkaikan kata

seluruh jiwaku adalah milik-Mu

dan dia adalah dimensi lain bagiku

 

dengarlah !

Engkau adalah segalanya bagiku

di atas dari segala apa yang kumiliki

hari ini kubuktikan

meskipun banjir-Mu telah mencabik-cabik

dan menodai dia, lembar demi lembar buku tercintaku

namun aku tak membenci-Mu

aku tetap ingin bersama-Mu

merasakan kedekatan

dengan-Mu

seumur hidupku

 

oooOooo

Banjir (1)

 

(Cat :telah dimuat di Harian Analisa,19 Sept’2010)

segerombolan makhluk-Mu

berjejalan dan memaksa masuk

merembesi pintu rumahku

 

banjir itu

berdesakan himpit menghimpit

memenuhi seluruh ruangan

begitu cepatnya

menyentuh dan mencemari segala apa yang ada

layaknya tamu tak diundang

penuh ketaksopanan

merajalela puas

dan melenggang pergi dengan jejak lumpur hitam

 

nyut ! rasa hatiku

itulah mau-Mu

meluluhlantakkan

hatiku berdebar kencang

 

marahkah aku ?

menjauhkah aku dari-Mu ?

lunglai tak berdaya

aku merintih

peluklah aku dalam keperkasaaan-Mu

meskipun sakit dan pahit yang kau beri

cintaku takkan pernah pudar

kepada-Mu

selamanya

 

oooOooo

 

 

 

Konsep Taman Wudhu’, Inginkah ?

(cat : telah dimuat di Harian Analisa, Mimbar Islam, 8 Oktober 2010)

Mesjid Luar Kota bagi Musafir

Hal yang paling menyenangkan bagi penulis saat melakukan perjalanan ke luar kota (rekreasi atau silaturrahmi-red) bersama keluarga adalah ketika singgah untuk shalat di sebuah mesjid dan mendapati kamar mandi mesjid yang bersih dan rapi. Satu kamar mandi mesjid yang mengesankan penulis adalah di sebuah mesjid yang mungil namun megah dan anggun terletak di Kabupaten “SB” (sebelah kiri bila perjalanan dari Medan-red). Halamannya rapi dan bersih, dihiasi tetumbuhan bunga, rerumputan dan kerikil-kerikil putih di sekelilingnya. Pada teras belakangnya ada perpustakaan mungil berupa area santai beratap tapi tak berdinding dilengkapi dengan sebuah lemari gantung mungil yang berisi sederet buku agama dan satu set (12 jilid-red) Tafsir fi Dzilalil Qur’an “Sayyid Quthb”. Yang menarik dalam hal ini bagi penulis adalah pada halaman pertama tafsir-tafsir itu bertuliskan sumbangan dari Bupati “SB”.

Di depan lemari buku itu ada sebuah meja kecil dan beberapa buah kursi untuk membaca. Juga di seberangnya ada sebuah meja yang di atasnya diletakkan sebuah dispenser aqua dan beberapa cangkir plastik untuk minuman para musafir yang singgah untuk shalat dan mengaso di mesjid itu. Subhanallah, rasanya betul-betul para musafir dimanjakan dengan fasilitas religius yang menyejukkan dan meluaskan wawasan keagamaan.

Disamping itu, kamar mandinya juga memuaskan. Lantai keramik, bak air, saluran pembuangan air dan airnya semua dalam keadaan bersih dan dengan kombinasi warna lantai dan dinding yang berwarna hijau, krem, kuning dan coklat muda yang menyegarkan. Rasanya cukup memuaskan singgah di mesjid itu untuk shalat sekaligus mengaso sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.

Mendapati mesjid yang memuaskan demikian, penulis jadi tertarik memperhatikan program-program Kabupaten “SB” tersebut di media cetak. Dan ketika penyelenggaraan pameran di Pekan Raya Sumut 2010 penulis berjumpa dengan salah seorang Penanggungjawab Pameran di Stand Kabupaten “SB”, penulis memberikan komentar pujian terhadap mesjid dan perpustakaan mungilnya serta sumbangan 1 set Tafsir fi Dzilalil Qur’an dari Sang Bupati untuk mengisi perpustakaan mungil itu. Kami berbincang panjang tentang program-program Kabupaten “SB” yang masih muda namun sudah merambah dan berkembang pesat dengan program-programnya (teknologi dan sosial kemasyarakatan-red). Satu program yang sangat menarik perhatian penulis adalah program mereka yang masih belum tercapai yaitu mengumpulkan 70 orang hafidz (penghafal al-Qur’an-red). Subhanallah !

Taman Wudhu’

Sebenarnya ada banyak mesjid di pinggiran atau luar kota yang penulis jumpai dan masuki, yang kesimpulannya dapat penulis ambil adalah kamar mandi – kamar mandinya jauh lebih baik dan menyegarkan dari kamar mandi-kamar mandi mesjid di kota penulis. Diantaranya ada yang kamar mandinya dilengkapi beberapa batu duduk setinggi + 75 cm di depan kran airnya agar ketika mengusap kaki dalam berwudhu’ bisa lebih memudahkan.

Dapat dimaklumi bila kamar mandi mesjid di pinggiran atau luar kota jauh lebih baik dan menyegarkan, karena kebanyakannya mesjid-mesjid itu kondisi bangunannya baru sehingga mengikuti perkembangan rancangan design terkini dan memenuhi syarat. Hal ini menimbulkan pertanyaan di hati penulis, bilakah kamar mandi mesjid di kota penulis direnovasi dan di design ulang sehingga lebih menyegarkan dan menyenangkan apalagi ketika antri dalam berwudhu’ dengan jamaah yang banyak ?

Persoalannya, ketika penulis Iktikaf di mesjid “A” pada sepuluh terakhir Ramadhan, jumlah jamaah wanita bisa mencapai lebih 300 orang sehingga penulis selalu merasa tak nyaman bila antri mengambil wudhu’ dengan kapasitas jumlah kamar kecilnya hanya 4 buah dan kran air wudhu’ tersedia hanya 8 buah serta saluran air yang tersumbat dan tergenang. Luar biasa beratnya hati bila hendak berwudhu’ membayangkan ketaknyamanan demikian, padahal kita harus selalu dalam keadaan suci dan memperbaharui wudhu’. Kalau sudah begini, timbullah keinginan di hati penulis, seandainya saja ada hartawan yang dermawan dan sponsor konsultan bangunan yang akan membiayai dan merancang ulang kamar mandi itu.

Misalnya saja, bak bulat besar sebagai penampung air yang berada di tengah ruangan kamar mandi di mesjid “A” itu sangatlah memakan tempat, dapat dirancang ulang menjadi bak gantung sehingga ruangan menjadi lapang dan bahkan bisa dibuat 5 kamar kecil berderet di sebelah kirinya sehingga semula hanya ada 4 buah menjadi 9 buah kamar kecil. Sementara itu, keempat tiang yang menopang bak gantung itu, pada keempat sisinya di masing-masing tiang dapat dibuat 4 buah kran air wudhu’ sehingga 4 x 4 berjumlah 16 buah. Lalu, saluran air yang tersumbat dapat dibongkar ulang dan diganti dengan riol ukuran besar dan penutup lubang saluran yang bersaring sehingga sampah tidak mudah masuk ke saluran.

Kemudian, untuk keindahan dan kesegaran area kamar mandi dapat didekor dengan bunga-bunga plastik yang menjulur ke bawah di setiap sudut utama pada ¼ bagian atas dinding dan di masing-masing sisi bak gantung dengan menggunakan vas bunga plastik dengan model yang menempel ke dinding. Bunga-bunga plastik ini tidaklah mahal harganya, berkisar Rp 50.000,- s.d Rp 100.000,- per vas bunga, tetapi sudah dapat digunakan bertahun-tahun karena bisa dicuci sehingga dengan perhitungan ekonomis ini sudah sangat menguntungkan nilai keindahan dan kesegaran ruangan kamar mandi. Yang penting pemilihan warna dan model bunganya. Kalaulah sudah indah dan segar begini kamar mandi mesjid kita, maka bagaikan sebuah taman wudhu’ sehingga dapat dibayangkan betapa ‘kemaruknya’ jamaah berwudhu sehingga senantiasa dalam keadaan suci dan memperbaharui wudhu’.

Penutup

Di tiga titik sudut bath tube di kamar mandi rumah penulis yang sederhana, penulis letakkan tiga vas bunga kecil ditata dengan bunga plastik dengan pola oval, setengah bundar dan vertical dengan kombinasi warna merah, putih, hijau dan orange sehingga memberikan nuansa cerah, segar dan indah meskipun kamar mandi tersebut sederhana dan tidak mewah dengan ukuran ruangan 2 ½ x 2 m (ukuran ini dengan mempertimbangkan bila suatu saat penulis meninggal dunia agar tidak terlalu sempit bagi bilal dan keluarga memandikan jenazah penulis -red).

Sehubungan dengan konsep taman wudhu’, di senta bak air kamar mandi di rumah kakak penulis, juga berjejer beberapa buah vas bunga kecil berisikan tetumbuhan dedaunan hijau sehingga memberikan suasana nyaman, sejuk dan fresh.

Selaras dengan itu, inginkah kita kamar mandi di mesjid-mesjid kita bagaikan taman-taman wudhu’ ? Semua berpulang pada keinginan kita. Ada keinginan, ada konsep, dan ada usaha, maka jadilah taman-taman wudhu’ menghiasi setiap kamar mandi di mesjid-mesjid kita sehingga menimbulkan kenyamanan dan kesegaran bagi kita meskipun pada saat-saat dalam antrian padat dan berlapis. Atau sebaliknya, tak ada keinginan, tak ada konsep, dan tak ada usaha, maka engganlah kita ke kamar mandi mesjid kita. Pilih yang manakah kita ?

Wallahu’alam bishshowab !

Duka Wasior 2010

 

Duka Wasior 2010

(1)

Oleh :

Lubna Shiba Agent

 

Senin pagi pukul delapan

empat Oktober 2010

banjir bandang bertandang

ganas sombong menyisir

kasar kota Wasior

 

keindahan kesejukan keteduhan wasior

tak mampu melembutkan hati

sang bandang seakan beku

tak berperasaan menyeret tajam

kencang segala yang ada

 

ooOoo

Duka Wasior 2010

(2)

Oleh :

Lubna Shiba Agent

 

Mencabik dan mengoyak kulit

tubuh manusia tak berdaya

tak berdosa berteriak pilu menyayat

 

menghancurkan  meremukkan

menyapu keruh lumpur segala

membawa pergi tak tentu arah

tak bersisa dengan kesombongan

angkuh membabi buta

ooOoo

Duka Wasior 2010

(3)

Oleh :

Lubna Shiba Agent

 

Tak memilah pantas tidak

habis lenyap tanpa kasih

tanpa tanggungjawab

melengos pergi

 

ooOoo

Karena aku bumi

Perutku mual, ‘eneg

mau muntah melihat pola tingkah

manusia

memijak-mijak diriku dengan

kesombongan dan kepongahan

tak sopan tak punya malu

berbuat maksiat di atas

tubuhku

menggunduli rambut

pepohonanku dengan

ketamakan dan membabi buta

menggali dan mengebor kedalaman

tubuhku penuh kerakusan

meraja lela puas

menggerayangi tiap lekuk

tubuhku

mencuri merampok mengakali

korupsi dengan cara apa pun

di depan mataku

titik kulminasi ketahananku

ambruk longsor sampai

ke titik dasar bahkan lebih

dalam

menimpa dan menimbun segala

yang ada

tak tertahankan lagi muntahlah

aku mengeluarkan seluruh isi

perutku

lahar panas

lumpur lapindo

kesakitanku tangisan

mataku berderai

sengit menggelombangkan

tsunami

geliat tubuhku menggetarkan

persada

beriak keras menyentakkan

gempa

kepanasan kehausan

tubuhku menggariskan retakan

pelataran

panjang tak berbatas

 

kekosongan dan kelaparan

lambungku menelan

menggigit dan meremukkan

ambacang dan apa saja

yang ada

 

inilah puncak kesabaranku

mengeluh dan mengadu

kepada Sang Pencipta

karena aku bumi

yang terzolimi !

 

oooOooo

Previous Older Entries

%d blogger menyukai ini: