LANGKAH GALAU SANG TERTUDUH KORUPTOR

 

Di suatu negeri yang BUKAN  negeri antah berantah (berarti ada dan sekarang-red), sedang gencar-gencarnya menumpas kasus-kasus korupsi bagi pejabat yang menyalahgunakan wewenang. Banyak para pejabat yang telah menjalani sidang pengadilan dan menerima hukuman berupa sanksi pengembalian uang/material dan tahanan kurungan penjara.        Satu demi satu pejabat berjatuhan dan mendapat giliran pemeriksaan.

Alkisah nyata, di sebuah daerah di negeri yang BUKAN antah berantah tersebut, seorang pejabat sedang dalam proses pemeriksaan tentang kasus korupsi yang dilakukannya di daerah lain pada masa lalu kepemimpinannya di daerah yang lebih kecil dibandingkan dengan daerah yang di pimpinnya sekarang. Sekian ratus milyar dana ‘tertuduh’ yang telah disalah-gunakannya dari daerah kecil tersebut dan sekarang harus dikembalikan kepada negara sebagai dasar pertanggung jawabannya.

Keuntungan pengembalian dana korupsi kepada Negara bagi para ‘tertuduh’ koruptor -sebagaimana yang telah berlaku bagi pejabat lain yang bisa mengembalikan dana korupsi- adalah dapat mengurangi lamanya masa tahanan penjara yang dikenakan kepada sang ‘tertuduh’ koruptor. Artinya, bila tidak dapat mengembalikan dana korupsi tersebut, maka akan semakin lamalah mendekam dalam penjara sesuai dengan tuntutan yang dikenakan kepadanya. Inilah yang menjadi tolok ukur bagi seorang ‘tertuduh’ koruptor untuk keringanan hukumannya, sehingga apa pun cara harus dilakukan untuk mengumpulkan uang untuk pengembalian dana tersebut. Perilaku usaha pencarian dana dengan penghalalan segala cara yang tak berprosedur inilah yang penulis rumuskan sebagai langkah galau seorang koruptor.

Reaksi Spontan

Barangkali dapat dimaklumi bahwa ketika seorang pejabat ‘tertuduh’ sebagai koruptor secara tertulis dari sebuah komisi pemberantasan korupsi dan instansi terkait serta ramainya pemberitaan tersebut di media cetak, tentulah sang ‘tertuduh’ sebagai koruptor sangat terkejut luar biasa dan bersusah hati. Tak menyangka akan mendapat musibah demikian. Dan merasa itu adalah di luar perhitungannya serta sama sekali tak terfikirkan olehnya waktu menjabat dulu bahwa akan dihadapkan pada posisi tuntutan demikian setelah masa kepemimpinan berlalu. Apalagi – barangkali juga- penyalahgunaan wewenang itu bukanlah dinikmati semata olehnya, tetapi karena sebagai pimpinan yang harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya, maka mau tak mau haruslah diterimanya.

Keterkejutan akan berita itu jelas membuat sang ‘tertuduh’ sebagai koruptor kelimpungan dan mencari daya dan upaya untuk mengatasi permasalahan pengembalian dana agar memperoleh pengurangan masa tahanan atau agar tidak menjalani masa tahanan sama sekali. Reaksi spontan dari sebuah pemikiran untuk perlindungan dan mempertahankan diri akan terbentuk dan dibentuk yang mencerminkan bagaimana sesungguhnya jiwa manusia sebagai insan yang lemah ini. Inilah titik-titik persimpangan bagi seorang manusia ‘tertuduh’ sebagai koruptor yang dihadapkan pada suatu masalah pertanggung jawaban kepada sesama manusia yang bernama ‘pemerintah dan rakyat’. Pada titik ini pulalah, kita bisa bercermin manakah langkah yang baik untuk situasi yang demikian galaunya ?.

Wujud penyerahan total atau sebaliknya

Tidak mudah memang, dalam situasi yang sangat galau dan kesusahan yang  berat untuk mengambil sebuah keputusan akan sebuah reaksi perlindungan dan mempertahankan diri. Apalagi orang di sekeliling kita memberikan solusi yang belum tentu baik bagi kita. Begitu jugalah dengan kasus sang ‘tertuduh’ sebagai koruptor di atas. Kegalauan dan kesusahan pikirannya dalam menghadapi masalah besar tuntutan kasus korupsi yang dilakukannya menggelapkan pikirannya untuk menjernihkan, ‘mencuci’ dan membersihkan perilaku diri.

Barangkali bagi orang yang tidak dalam kegalauan, akan mengambil sikap penyerahan total kepada putusan hukum yang berlaku sebagai suatu sikap penyesalan atas kekhilafan yang dilakukan di masa lalu serta memohon ampun kepada Tuhan Yang Menciptakan. Dengan  ridha dan ikhlas hati menjalani hukuman (meskipun barangkali tidak menikmati sendiri hasil korupsi itu-red), serta mengambilnya sebagai suatu  pelajaran yang sangat berharga  dan bertekad untuk tidak mengulanginya kembali. Itulah tindakan bila kita sedang dalam keadaan berfikir jernih dan ingin ‘mencuci’ dan  membersihkan perilaku diri.

Namun kejadian di negeri yang BUKAN antah berantah di sebuah daerah di atas tadi, sang ‘tertuduh’ sebagai koruptor mengambil keputusan yang ‘galau’ yaitu bukannya menyesali dan memikul tanggung jawab itu dengan ikhlas hati tetapi malah bertindak ‘korupsi di atas korupsi’ yang bertimpa antara lain dengan meminta setoran-setoran dari pimpinan-pimpinan daerah di bawah jajarannya untuk menutupi sejumlah dana yang dituntut darinya. Inilah langkah galau seorang pejabat yang ditimpa kasus korupsi di sebuah negeri yang BUKAN antah berantah.

 

Kesusahan yang meluas

Kesusahan dan kegalauan sang ‘tertuduh’ sebagai koruptor tadi, meluas dan merambah ke wilayah di bawah jajarannya. Kutipan-kutipan yang bernama ‘setoran siluman’ menghisap brankas-brankas tak berdosa. Mematuk apa saja yang bisa dipatuk. Menyisakan susah berlipat dan berpanjangan yang menyebar luas dalam segala strata. Inilah akibat langkah galau yang lebih menggalaukan dan mengeruhkan kegalauan. Menghitam pekatkan hati dan pikiran. Menepuk dada membenarkan perilaku demikian, yang pada hakikatnya lebih menjerumuskan dirinya ke dalam jurang yang lebih dalam lagi. Namun siapa yang berani berkata terbuka kepadanya ? Semua diam membisu, namun berkeluh kesah dan ngedumel di belakangnya, memikul berat beban yang bernama ‘jabatan’.

Padahal, dalam situasi galau dan gelap begini, harusnya ada yang ‘mengucurkan’ titisan kalimat sejuk yang meneduhkan dan ‘mengulurkan’ sebuah lilin yang berpijar agar menerangi dan memperjelas bentuk di sekitarnya. Itulah sebuah penyadaran yang halus dan menguntungkan bagi semua makhluk yang ada di bumi ini, termasuk keuntungan bagi sang ‘tertuduh’ sebagai koruptor tersebut.

 

 

Penutup

Inilah jaman ketika nilai-nilai materil menjadi tuhan-tuhan bagi manusia. Tak ada yang bisa menjamin siapa yang akan selamat darinya. Ketika segala daya upaya pembenahan dan perbaikan tak dipedulikan, meraja lela dengan pembenaran yang kabur dan mengaburkan. Namun; hati-hati yang terang, dan pikiran-pikiran yang terang takkan pernah musnah dari bumi ini. Tetap akan ada yang menggaungkan dan mengarahkan ke jalan kebenaran.

Jalan masih panjang. Kerja masih bertumpuk. Perlu pembenahan untuk perbaikan dan kemaslahatan, dengan kerjasama dan kesabaran.

 

Trik Mudah Membuat & Mengisi Blog di word press.com

Semula saya bingung bagaimana caranya membuat blog dan menuangkan segala kreativitas di situ. Lalu saya tanya teman apakah ada yang punya blog, jawabannya tak ada. Lalu saya Tanya ponakan saya di Bandung melalui sms, dia berikan nama blog wp-nya. Saya coba buka blog wp-nya, lalu saya coba daftar di sign up. Kemudian bingung, ‘mau diapa-in ini blog. Gimana ngisinya ?’. 4 hari ngutak-ngatik (habis, hobby utak atik, sih), jalan-jalan di blog, mengeksplor, kmd saya dapat….ternyata sangat mudah dan singkat sekali.

Tau tidak, apa selanjutnya yang saya lakukan ? Ponakan saya yang Sekolah Dasar- saya kasi trik termudah dan tercepat ini- hanya dengan waktu ‘5 menit saja!’, telah memiliki blog di wpnya dan langsung mengisi blognya dengan puisi-puisi yang uda lama dipendamnya. Kemudian dia pamer ke teman-teman SD nya ….:)) …. dan dia pun dapat decak kagum….ck..ck..ck….seperti itu ….

Saya dan ponakan sering mojok di Perpustakaan Daerah….ya… itu tuh….internetan gratis with wifi….he he he….masyarakat harus mempergunakan fasilitas yang diberikan pemerintah …. ya….Cuma jangan sering-sering macet dong signalnya….lama downloadnya….

Eh ngobrol terus nih….kelupaaan apa yang mau dibicarakan. Itu tuh…Mau tau gimana trik mudah buat dan isi blog di word press ? Nih….nih…, baca dengan senyum yaa…. Soalnya senyum itu kan sedekah…. (he he… biar diketawain orang yang ngeliat, dikira orang gila senyum-senyum ‘ndiri….).

I. Cara Mendaftar Blog

  1. Buka telusur Google, ketik : word.press.com (eh, ud jelas tau ini, ya ? he he he, sengaja )
  2. Klik :’Silahkan Nge-Blog disini, Gratis!
  3. Klik : ‘Daftarkan Diri’ atau ‘Sign Up’ (lihat : kanan atas)
  4. Pada kotak Blog Address, ketik : ‘nama blog anda’. Contoh : roswitahrp
  5. Pada kotak Nama Pengguna (User), ketik : ‘nama anda’. Contoh : roswita
  6. Pada kotak Kata Sandi, ketik : ‘password anda’. Contoh : 1234acca
  7. Pada kotak Konfirmasi, ketik : ‘password anda seperti di atas’. Contoh : 1234acca
  8. Pada kotak Alamat Sur-el, ketik : ‘email anda’. Contoh : acca@yahoo.com
  9. Kemudian klik kotak ‘Sign Up’ (Oke, anda sudah terdaftar.Lihat juga surat masuk ke email anda dari word.press.com).

II. Cara Mengisi Blog :

  1. Buka telusur Google, ketik : word.press.com (eh, ud jelas tau ini, ya ? he he he, sengaja. lagi….lagi….)
  2. Klik :’Silahkan Nge-Blog disini, Gratis!
  3. Pada kotak kiri atas ‘Nama Pengguna”, ketik :’nama pengguna anda’. Contoh : roswitahrp
  4. Pada kotak kiri atas ‘Kata Sandi”, ketik :’password anda’. Contoh : 1234acca
  5. Kemudian klik kotak ‘Masuk Log’
  6. Pada layar pertama-kiri tengah- ada ucapan selamat datang. Klik blog anda: ’roswitahrp’
  7. Anda sudah berada di blog anda :’Dasbor anda’.
  8. Klik ‘Pengguna’ (kiri bawah), klik ‘Pengaturan Pribadi’, kemudian isilah apa yang mau di isi pada kotak-kotak isian. Tapi disini yang ingin saya sampaikan adalah anda memilih ‘Bahasa Antar Muka’: kliklah Bahasa Indonesia agar anda mudah memahami blog anda selanjutnya.
  9. Selanjutnya anda boleh saja meng-klik ‘My Profile’ dan mengisi kotak-kotak isiannya.dst.
  10. Kemudian klik ‘Tampilan’, lanjutkan klik ‘Kepala Halaman’; ini bila anda ingin mengganti gambar depan ‘Kepala Halaman’ blog anda dengan gambar yang anda suka. yaitu dengan meng-Upload Image dari browse mana yang anda ambil. Anda akan dituntun dengan besar ukuran gambarnya dengan crop yang ditentukan. Atau pilih Default Image yang tersdia.
  11. Begitu juga dengan hiasan ‘Latar Belakang’ blog anda; kilik ‘Tampilan’, klik ‘Latar Belakang’, sama seperti poin no.10. Wah, pasti cantik tampilan blog anda….seperti yang saya punya….ada taman bunganya….hi hi….
  12. Setelah tampilan blog anda indah, sekarang anda anda siap untuk mengisi tulisan anda. Klik ‘Tulisan’. Buatlah judul tulisan pada kotak pertama dibawah ‘Add New Post’. Kemudian ketik tulisan anda pada kotak lebih besar dibawahnya dengan menggunakan segala fasilitas Font dan Formatnya. oh ya, tulisan anda bisa anda copy dari file word anda sendiri dengan mem-pastenya di kotak tulisan. juga bisa anda ambil dari situs apa yang anda suka dengan menyertakan siapa penulisnya dan dari tajuk/situs mana. Kemudian klik ‘terbitkan’ (di sebelah kanan). Nah tulisan pertama anda telah terbit di blog anda. anda bisa melihatnya dengan meng-klik ‘lihat tulisan’ (di tengah atas)
  13. Selanjutnya, semakin berkembang dan semakin penuhnya blog anda dengan menambah halaman-halaman baru apa saja yang anda suka untuk spesifikasi tulisan anda. Caranya dengan mengklik ‘Halaman”, ketiklah judul-judal halaman yang anda suka, untuk kemudian mengisinya dengan tulisan-tulisan anda dengan tema-tema tertentu, seperti : Cerpen, Artikel, dll. Catatan : Home/Beranda itu halaman yang tulisan anda tertampung semua di situ, bila anda tidak menambah halaman baru sesuai tema anda.
  14. Nah, sekarang anda telah memiliki blog yang indah dan terisi penuh. Selanjutnya rajin-rajinlah membuka blog-blog lain agar semakin berkembang pengetahuan anda, dan itu bisa jadi lebih baik dari yang saya sampaikan ini. Oce ? Yap! Selamat mencoba ! salaam ….

ooOoo

MANUSIA DAN TELEVISI

 

(Cat: telah dimuat di Harian Analisa, Mimbar Islam, 9 Juli 2010)

Seru sekali dalam dua pekan ini membaca halaman Mimbar Islam di harian ini yang menohok perhelatan akbar Piala Dunia sebagai momok yang menelantarkan ibadah/shalat bagi umat Islam yang gila bola.

Hal di atas menyebabkan penulis merenungkan  tentang  kebenaran pandangan yang diberikan oleh Nabi Musa A.S kepada Nabi Muhammad SAW bahwa umatnya tidak akan sanggup melaksanakan ibadah shalat meskipun hanya lima kali sehari itu yang masing-masingnya memakan waktu lebih kurang lima belas menit.

Kalau dihitung-hitung; 5 x 15 menit  untuk melaksanakan shalat dibandingkan dengan waktu 24 jam sehari, maka hanya 1 jam ¼ menit waktu untuk shalat sehingga tersisa 22 jam ¾ menit untuk kegiatan kehidupan lainnya. Perhitungan ini sebenarnya menunjukkan ketidak-adilan manusia kepada dirinya sendiri. Ini yang tidak disadari  oleh manusia yaitu keseimbangan perhatian dan konsentrasi untuk dunianya dan akhirat tidak normal.

Banyak faktor yang mempengaruhi ketidaknormalan keseimbangan ini. Prediksi Nabi Musa A.S itu penulis renungkan dengan memperbandingkan bahwa zaman pada masa turunnya perintah shalat itu dengan zaman sekarang sangatlah jauh berbeda. Contohnya saja, pada masa itu kegiatan manusia hanya mencari nafkah, mengurus rumah dan keluarga, lalu selebihnya bisa beribadah sepuas mungkin atau juga mengadakan perkumpulan agama/sosial, rekreasi atau liburan (bila ada-red). Itu saja secara global kegiatan kala itu.

Tapi sekarang – di era globalisasi ini, dunia sudah semakin mengglobal sehingga apa pun yang terjadi di belahan bumi lain sudah dapat dilihat di hadapan kita pada saat bersamaan ‘live’ dan tidak perlu menunda waktu dan berangkat ke lokasi kejadian untuk mengetahuinya. Inilah peranan besar televisi bagi manusia. Sehingga kalau kita perhatikan, maka sepertinya hampir semua rumah memiliki televisi, baik yang miskin apalagi yang kaya bisa memiliki lebih dari 1 tv. Maka jadilah televisi sebagai penghantar berita terbaik dan penghibur utama saat ini bagi semua kalangan.

Nah, peranan televisi menjadi  semakin mencuat dan  berjaya dengan kehadiran event Piala Dunia Afrika Selatan 2010 ini. Pertandingan itu disiarkan langsung tanpa tunda semenit pun di hadapan kita tanpa harus membeli tiket pesawat dan tiket masuk, melainkan cukup dengan memiliki atau membeli  1 bh televisi. Maka tak heranlah bila sebulan sebelum event Piala Dunia digelar, seorang SATPAM di kantor saya bela-belain membeli sebuah televisi baru  dengan mengkredit selama 10 bulan (karena tidak punya uang untuk membayar cash-red). Bayangkan,  10 bulan harus menyisihkan uang belanja hanya untuk membayar kredit televisi karena kehadiran ‘sosok piala dunia’.

Mungkin kita yang bukan gila bola akan geleng kepala memikirkan fakta di atas. Pertanyaannya sekarang adalah ‘apakah kalau tidak ada tv yang meliput siaran langsung dan tunda Piala Dunia itu, masyarakat kita akan gila bola seperti itu ? Jawabannya bisa ‘ya’ bisa ‘tidak’, karena sebelum adanya tv kita bisa mendengar siaran langsung dan tunda itu dari radio.  Jelas tidak memuaskan karena tidak dapat melihat langsung objeknya.

Itulah hebatnya tv ini ! Sangkin hebatnya, bisa melalaikan manusia dari aktivitas-aktivitas kesehariannya, terutama opini yang muncul di harian ini tentang kelalaian manusia dalam  melaksanakan shalat karena jam tayang yang bersamaan dengan waktu shalat yang hampir mencakup seluruh waktu shalat fardhu. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah !. Maka tak heranlah bila  Rachmat Ramadhana Al-Banjari ‘memasukkan tv ke dalam katagori wujud Iblis’. (lihat Rachmat Ramadhana Al-Banjari, Psikologi Iblis, hal. 236, 2007).

Peranan Iblislah yang melalaikan kita dari tanggung jawab kepada Allah. Yang membuat kita lupa akan sumpah Iblis bahwa ‘dia akan menggoda anak cucu Adam A.S untuk menjadi sekutu baginya yang akan menemaninya beramai-ramai di dalam neraka’.

Iblislah yang membuat kita terlena  dan mabuk dengan segala fasilitas dan sarana/teknologi yang ada pada kita.  Sehingga kita lupa bahwa dibalik fasilitas dan sarana ini,  ada sebuah dunia lain yang akan mensortir kita dari nilai tanggung jawab kepada Sang Pencipta.

Kita juga lupa bahwa fasilitas dan sarana di dunia lain itu sangat sangat sangat jauh lebih baik dan membahagiakan dan kekal tak berkesudahan dibandingkan dengan yang ada di dunia sekarang ini. Itu semua dapat kita miliki dengan ‘prestasi raport’ yang kita peroleh dari catatan perilaku kita di dunia saat ini.

Tapi kenapa kita tidak mengejar prestasi itu dan lalai terhadap persiapannya ? Padahal di dunia inilah saatnya kita berpacu meraih prestasi dan predikat terbaik sebagai insan Tuhan ?  Inilah yang perlu menjadi  bahan perenungan kita.

 

Bukan hanya Piala Dunia

Kalau kita amati dan perhatikan dengan serius pada diri, keluarga dan masyarakat kita, maka sebenarnya bukan hanya jam tayang Piala Dunia saja yang membuat kita menjadi manusia yang lalai sebagai insan Tuhan. Tetapi juga hampir keseluruhan acara tv lainnya juga membuat kita tak hendak beranjak dari hadapan  ‘benda yang bernama tv’ itu. Tak ada batasan usia yang berperilaku demikian. Anak-anak dengan acara film kartun, cerita anak, sinetron anak, aktivitas anak dan info anak lainnya. Yang bisa dikatakan sedikit sekali nilai edukasinya bagi anak. Begitu juga bagi remaja, dewasa dan lansia yang terkena imbas ‘lengket keseharian’ di depan tv.

Masalahnya adalah karena  stasiun tv juga saling berpacu menyajikan acara hiburan dan berita terkini/akurat bagi para pemirsanya. Sehingga setelah canel 1 selesai dengan acara yang mengasyikkan maka kita berpindah ke canel 2, 3 dst .… sampai ke canel 14 dengan acara tayang yang berbeda dan mengasyikkan yang non-stop 24 jam dalam sehari atau paling tidak jeda dari pukul 03.00 s.d 05.00 WIB. Perhatikan dan buktikan hal ini dalam keseharian kita. Apakah meleset dari yang penulis paparkan ini ?

Merenungi fenomena ini, sampai-sampai penulis memikirkan ‘apakah Tuhan Yang Maha Pengampun memberikan perbedaan penilaian terhadap manusia sesuai dengan zaman berkembang ?’. Kilmaks dan down-nya,  penulis ingin berharap demikian kepada Tuhan. Bayangkan, betapa enaknya zaman ketika perintah shalat itu  diturunkan. Ada Rasulullah SAW di sisi kita sehingga kita bisa bertanya sepuas mungkin tentang masalah agama ini. Manusia juga tidak disibukkan dengan siaran tv, cd, internet, HP dan sarana teknologi canggih lainnya sehingga setelah selesai mencari nafkah, mengurus keluarga, kita bisa istirahat dan beribadah sepuas mungkin.

Tapi apakah benar itu akar permasalahan sebenarnya ? Apakah bila kita hidup di zaman kala itu, memang kita akan banyak bertanya kepada Rasulullah SAW tentang persoalan agama dan tekun beribadah ? Jelas belum tentu, karena dari sejarah kenabian kita juga mendengar bahwa ada manusia-manusia yang tidak peduli bahkan membenci Rasulullah SAW serta lalai dalam beribadah.

Tak ada kata lain, barangkali ‘dispensasi’ dari Tuhan lah kepada kita untuk mempertimbangkan perkembangan zaman dalam penilaian ibadah kita. Karena kita juga pernah mendengar sabda Rasulullah SAW  yang mengatakan bahwa ‘nilai sedekah seribu rupiah dari seorang yang kaya berbeda dengan nilai sedekah seribu rupiah dari seorang yang miskin’. Dalam hal ini, nilai bagi si miskin lebih besar dari nilai bagi si kaya.

Begitulah pengharapan sekaligus do’a penulis, semoga Tuhan Yang Maha Bijaksana memberikan perbedaan nilai dalam beribadah bagi manusia sesuai dengan perkembangan zamannya. Semakin maju dan canggih zaman itu, maka semakin beratlah godaan dalam melaksanakan ibadah sehingga nilai ibadahnya semakin tinggi. Tapi semua kita serahkan saja kepada iradah dan rahmat Allah SWT.

 

Wallahu’alam bishshowab !

MENGHIDUPKAN RAMADHAN DI BULAN-BULAN LAIN

 

 

(Cat : telah dimuat di Harian Analisa, Mimbar Islam, 19 Sept’2010)

Tanpa terasa, Ramadhan akan segera berlalu dari pelukan kita. Berat rasanya dan ingin terus mendekapnya agar hari-hari kita tetap semarak dan indah dikarenakan keberkahan bulan mulia ini. Namun apa daya, waktu bergulir dan berputar menurut kehendak-Nya.

Kalau ditanya, barangkali kebanyakan orang, pasti inginnya sepanjang tahun Ramadhan terus. Tapi kita tidak mungkin menghentikan berputarnya waktu agar tetap pada posisinya. Yang akan menimbulkan ketidakstabilan. Tidak adanya pergantian musim panas, dingin dan semi. Hidup juga akan jadi gersang. Pergantian waktu dan musim itulah yang membuat hari-hari tertentu-dalam hal ini Ramadhan- menjadi lebih sangat berharga. Momen kekhusyukan beribadah dan berbagi.

Sebenarnya, sebagai manusia yang diciptakan Allah SWT  dengan penuh kesempurnaan dan kemuliaan dari makhluk lain, membuat kita mampu untuk memikirkan dengan akal.  Bagaimana getar-getar indah bulan yang mulia ini dapat juga tercipta dan terakumulasikan di bulan-bulan lain. Inilah yang harus  kita perjuangkan. Ketika pada bulan Ramadhan kita mampu memenuhi mesjid pada shalat-shalat fardhu, terutama pada shalat Isya’ dan Tarawih. Bertadarrus pada malam hari bagi bapak-bapak dan bagi ibu-ibu selesai shalat shubuh. Indah sekali rasanya ! Juga para ibu rumah tangga menyediakan makan berbuka puasa dan snack untuk tadarrusan malam hari dengan bergiliran diantar ke mesjid. Subhanallah, bulan penuh sedekah ! Menimbulkan rasa berbagi di antara kita. Dan inginnya kita, suasana bahagia dan peduli ini, jangan segera sirna dari hadapan kita. Begitu juga dengan shalat malam, tilawah dan tadabbur  al-Qur’an dan dzikir.

Permasalahannya sekarang, bagaimana amalan-amalan yang biasa kita lakukan pada bulan mulia Ramadhan, bisa tetap kita lakukan pada bulan-bulan lainnya. Satu hal yang kita lupakan bahwa Allah SWT sangat senang kepada hamba yang ibadahnya rutin. Bukan pada banyaknya, tapi pada kerutinannya. Misalnya, tilawah dan tadabbur al-Qur’an rutin setiap hari meskipun sedikit. Itulah yang coba kita terapkan pada bulan-bulan lain di luar Ramadhan. Amalan yang rutin, meskipun sedikit. Sehingga apa-apa yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan, juga dilakukan di bulan-bulan lainnya.

Keberhasilan manusia sebagai pemenang di bulan Ramadhan adalah diterimanya puasanya oleh Allah SWT. Karena, ada puasa yang tidak diterima. Ciri-ciri orang yang puasanya diterima adalah apa yang terlintas dalam benaknya selama dia melakukan ibadah puasa. Apakah pikiran yang semakin bersih? Tidak terkotori oleh hawa nafsu dan unsur cinta dunia yang berlebihan. Selain itu juga, ciri-ciri diterimanya puasa seseorang adalah apakah ada peningkatan ketakwaan dalam diri dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Peningkatan ketakwaan ini adalah setara dengan menaiknya derajat ruhaniah diri sehingga ada keinginan untuk mempertahankan amalan-amalan yang telah dilaksanakan selama bulan Ramadhan untuk tetap berusaha melaksanakannya di bulan-bulan lain. Jelas kalau shalat Tarawih, tidak termasuk dalam hal ini. Tapi puasa sunnah, shalat-shalat sunnah, tilawah dan tadabbur al-Qur’an, dzikir dan sedekah.

Kebanyakan yang berlaku dalam masyarakat kita selama ini adalah ketika berlalunya  Ramadhan, maka mesjid pun kembali sepi. Dan rasa berbagi kita pun menguap entah kemana. Shalat sunnah dan sedekah pun seakan terlupakan. Juga al-Qur’an, hanya  terpajang di atas lemari. Apabila ada orang yang meninggal, barulah al-Qur’an  kita turunkan dan kita bacakan. Setelah itu  kita pajang lagi di atas lemari atau semacamnya. Singkatnya, al-Qur’an kita turunkan dan  kita bacakan adalah karena ada dan untuk orang meninggal. Padahal, al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penyembuh. Jelas artinya bahwa petunjuk dan penyembuh itu diperuntukkan bagi orang yang masih hidup, bukan bagi orang yang telah mati. Petunjuk dan penyembuh, tidak diperlukan lagi oleh orang yang telah mati. Bahkan, kalau orang yang telah mati itu minta petunjuk dan penyembuh kepada kita, tentu kita akan lari terbirit-birit meninggalkannya. Inilah hal salah yang selalu kita lakukan dalam perjalanan hidup kita. Kesalahan yang bisa kita perbaiki, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Bahwa  orang yang hiduplah yang sangat membutuhkan al-Qur’an.

Banyak keuntungan dan manfaat dari membaca, menghafal dan mentadabburi al-Qur’an. Diantaranya : rumah kita akan terang benderang, tidak seperti kuburan. Di kelilingi oleh para malaikat. Mendapat cucuran rahmat. Senantiasa berkomunikasi dengan Allah SWT. Mendapat syafaat di hari Kiamat untuk memasuki surga. Juga dikatakan kepada ahli al-Qur’an, bila telah berada di dalam surga ,”Bacalah”. Lalu dia membaca ayat demi ayat al-Qur’an yang telah dihafalnya. Maka, pada setiap ayat yang dibacanya, dia naik satu tingkat pada tingkatan surga di atasnya. Begitu seterusnya sampai akhir ayat yang dibaca. Itulah beberapa keutamaan bagi orang-orang yang suka membaca, mentadabburi dan menghafal al-Qur’an.

Penutup

Ketika malam al-Qadar pada bulan Ramadhan, takdir tiap-tiap manusia untuk  tahun sekarang sampai tahun berikutnya diturunkan dari Kitab Lauhul Mahfudz di Baitul Ba’ats ke Langit Dunia di Baitul Izzah. Semua telah ditentukan dan digariskan. Hanya saja kita tidak mengetahui, akan jadi apa kita ke depan terhitung mulai malam al-Qadar Ramadhan ini. Itulah hal terbaik bagi kita. Karena kalau kita telah mengetahui akan jadi apa kita nantinya, tentu kita tidak akan berusaha. Oleh karena itu, kita tentukan sendiri pilihan kita, mau jadi apa kita nantinya setelah berlalunya Ramadhan ini. Apakah akan melakukan amalan-amalan Ramadhan pada bulan-bulan lainnya ataukah tidak ? Tergantung pada pilihan kita. Keutamaan-keutamaan amalannya telah kita ketahui.

Wallahu’alam bishshowab !

Banjir (2)

 

Engkau sungguh tak percaya

padahal setiap detik aku berbisik

aku mencintai-Mu

lebih dari apa pun

 

kecemburuan-Mu

merenggut perhatian dan keasyikanku bersamanya

ultimatum-Mu

pilih Engkau atau dia !

ah, bagaimana lagi harus kurangkaikan kata

seluruh jiwaku adalah milik-Mu

dan dia adalah dimensi lain bagiku

 

dengarlah !

Engkau adalah segalanya bagiku

di atas dari segala apa yang kumiliki

hari ini kubuktikan

meskipun banjir-Mu telah mencabik-cabik

dan menodai dia, lembar demi lembar buku tercintaku

namun aku tak membenci-Mu

aku tetap ingin bersama-Mu

merasakan kedekatan

dengan-Mu

seumur hidupku

 

oooOooo

Banjir (1)

 

(Cat :telah dimuat di Harian Analisa,19 Sept’2010)

segerombolan makhluk-Mu

berjejalan dan memaksa masuk

merembesi pintu rumahku

 

banjir itu

berdesakan himpit menghimpit

memenuhi seluruh ruangan

begitu cepatnya

menyentuh dan mencemari segala apa yang ada

layaknya tamu tak diundang

penuh ketaksopanan

merajalela puas

dan melenggang pergi dengan jejak lumpur hitam

 

nyut ! rasa hatiku

itulah mau-Mu

meluluhlantakkan

hatiku berdebar kencang

 

marahkah aku ?

menjauhkah aku dari-Mu ?

lunglai tak berdaya

aku merintih

peluklah aku dalam keperkasaaan-Mu

meskipun sakit dan pahit yang kau beri

cintaku takkan pernah pudar

kepada-Mu

selamanya

 

oooOooo

 

 

 

Konsep Taman Wudhu’, Inginkah ?

(cat : telah dimuat di Harian Analisa, Mimbar Islam, 8 Oktober 2010)

Mesjid Luar Kota bagi Musafir

Hal yang paling menyenangkan bagi penulis saat melakukan perjalanan ke luar kota (rekreasi atau silaturrahmi-red) bersama keluarga adalah ketika singgah untuk shalat di sebuah mesjid dan mendapati kamar mandi mesjid yang bersih dan rapi. Satu kamar mandi mesjid yang mengesankan penulis adalah di sebuah mesjid yang mungil namun megah dan anggun terletak di Kabupaten “SB” (sebelah kiri bila perjalanan dari Medan-red). Halamannya rapi dan bersih, dihiasi tetumbuhan bunga, rerumputan dan kerikil-kerikil putih di sekelilingnya. Pada teras belakangnya ada perpustakaan mungil berupa area santai beratap tapi tak berdinding dilengkapi dengan sebuah lemari gantung mungil yang berisi sederet buku agama dan satu set (12 jilid-red) Tafsir fi Dzilalil Qur’an “Sayyid Quthb”. Yang menarik dalam hal ini bagi penulis adalah pada halaman pertama tafsir-tafsir itu bertuliskan sumbangan dari Bupati “SB”.

Di depan lemari buku itu ada sebuah meja kecil dan beberapa buah kursi untuk membaca. Juga di seberangnya ada sebuah meja yang di atasnya diletakkan sebuah dispenser aqua dan beberapa cangkir plastik untuk minuman para musafir yang singgah untuk shalat dan mengaso di mesjid itu. Subhanallah, rasanya betul-betul para musafir dimanjakan dengan fasilitas religius yang menyejukkan dan meluaskan wawasan keagamaan.

Disamping itu, kamar mandinya juga memuaskan. Lantai keramik, bak air, saluran pembuangan air dan airnya semua dalam keadaan bersih dan dengan kombinasi warna lantai dan dinding yang berwarna hijau, krem, kuning dan coklat muda yang menyegarkan. Rasanya cukup memuaskan singgah di mesjid itu untuk shalat sekaligus mengaso sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.

Mendapati mesjid yang memuaskan demikian, penulis jadi tertarik memperhatikan program-program Kabupaten “SB” tersebut di media cetak. Dan ketika penyelenggaraan pameran di Pekan Raya Sumut 2010 penulis berjumpa dengan salah seorang Penanggungjawab Pameran di Stand Kabupaten “SB”, penulis memberikan komentar pujian terhadap mesjid dan perpustakaan mungilnya serta sumbangan 1 set Tafsir fi Dzilalil Qur’an dari Sang Bupati untuk mengisi perpustakaan mungil itu. Kami berbincang panjang tentang program-program Kabupaten “SB” yang masih muda namun sudah merambah dan berkembang pesat dengan program-programnya (teknologi dan sosial kemasyarakatan-red). Satu program yang sangat menarik perhatian penulis adalah program mereka yang masih belum tercapai yaitu mengumpulkan 70 orang hafidz (penghafal al-Qur’an-red). Subhanallah !

Taman Wudhu’

Sebenarnya ada banyak mesjid di pinggiran atau luar kota yang penulis jumpai dan masuki, yang kesimpulannya dapat penulis ambil adalah kamar mandi – kamar mandinya jauh lebih baik dan menyegarkan dari kamar mandi-kamar mandi mesjid di kota penulis. Diantaranya ada yang kamar mandinya dilengkapi beberapa batu duduk setinggi + 75 cm di depan kran airnya agar ketika mengusap kaki dalam berwudhu’ bisa lebih memudahkan.

Dapat dimaklumi bila kamar mandi mesjid di pinggiran atau luar kota jauh lebih baik dan menyegarkan, karena kebanyakannya mesjid-mesjid itu kondisi bangunannya baru sehingga mengikuti perkembangan rancangan design terkini dan memenuhi syarat. Hal ini menimbulkan pertanyaan di hati penulis, bilakah kamar mandi mesjid di kota penulis direnovasi dan di design ulang sehingga lebih menyegarkan dan menyenangkan apalagi ketika antri dalam berwudhu’ dengan jamaah yang banyak ?

Persoalannya, ketika penulis Iktikaf di mesjid “A” pada sepuluh terakhir Ramadhan, jumlah jamaah wanita bisa mencapai lebih 300 orang sehingga penulis selalu merasa tak nyaman bila antri mengambil wudhu’ dengan kapasitas jumlah kamar kecilnya hanya 4 buah dan kran air wudhu’ tersedia hanya 8 buah serta saluran air yang tersumbat dan tergenang. Luar biasa beratnya hati bila hendak berwudhu’ membayangkan ketaknyamanan demikian, padahal kita harus selalu dalam keadaan suci dan memperbaharui wudhu’. Kalau sudah begini, timbullah keinginan di hati penulis, seandainya saja ada hartawan yang dermawan dan sponsor konsultan bangunan yang akan membiayai dan merancang ulang kamar mandi itu.

Misalnya saja, bak bulat besar sebagai penampung air yang berada di tengah ruangan kamar mandi di mesjid “A” itu sangatlah memakan tempat, dapat dirancang ulang menjadi bak gantung sehingga ruangan menjadi lapang dan bahkan bisa dibuat 5 kamar kecil berderet di sebelah kirinya sehingga semula hanya ada 4 buah menjadi 9 buah kamar kecil. Sementara itu, keempat tiang yang menopang bak gantung itu, pada keempat sisinya di masing-masing tiang dapat dibuat 4 buah kran air wudhu’ sehingga 4 x 4 berjumlah 16 buah. Lalu, saluran air yang tersumbat dapat dibongkar ulang dan diganti dengan riol ukuran besar dan penutup lubang saluran yang bersaring sehingga sampah tidak mudah masuk ke saluran.

Kemudian, untuk keindahan dan kesegaran area kamar mandi dapat didekor dengan bunga-bunga plastik yang menjulur ke bawah di setiap sudut utama pada ¼ bagian atas dinding dan di masing-masing sisi bak gantung dengan menggunakan vas bunga plastik dengan model yang menempel ke dinding. Bunga-bunga plastik ini tidaklah mahal harganya, berkisar Rp 50.000,- s.d Rp 100.000,- per vas bunga, tetapi sudah dapat digunakan bertahun-tahun karena bisa dicuci sehingga dengan perhitungan ekonomis ini sudah sangat menguntungkan nilai keindahan dan kesegaran ruangan kamar mandi. Yang penting pemilihan warna dan model bunganya. Kalaulah sudah indah dan segar begini kamar mandi mesjid kita, maka bagaikan sebuah taman wudhu’ sehingga dapat dibayangkan betapa ‘kemaruknya’ jamaah berwudhu sehingga senantiasa dalam keadaan suci dan memperbaharui wudhu’.

Penutup

Di tiga titik sudut bath tube di kamar mandi rumah penulis yang sederhana, penulis letakkan tiga vas bunga kecil ditata dengan bunga plastik dengan pola oval, setengah bundar dan vertical dengan kombinasi warna merah, putih, hijau dan orange sehingga memberikan nuansa cerah, segar dan indah meskipun kamar mandi tersebut sederhana dan tidak mewah dengan ukuran ruangan 2 ½ x 2 m (ukuran ini dengan mempertimbangkan bila suatu saat penulis meninggal dunia agar tidak terlalu sempit bagi bilal dan keluarga memandikan jenazah penulis -red).

Sehubungan dengan konsep taman wudhu’, di senta bak air kamar mandi di rumah kakak penulis, juga berjejer beberapa buah vas bunga kecil berisikan tetumbuhan dedaunan hijau sehingga memberikan suasana nyaman, sejuk dan fresh.

Selaras dengan itu, inginkah kita kamar mandi di mesjid-mesjid kita bagaikan taman-taman wudhu’ ? Semua berpulang pada keinginan kita. Ada keinginan, ada konsep, dan ada usaha, maka jadilah taman-taman wudhu’ menghiasi setiap kamar mandi di mesjid-mesjid kita sehingga menimbulkan kenyamanan dan kesegaran bagi kita meskipun pada saat-saat dalam antrian padat dan berlapis. Atau sebaliknya, tak ada keinginan, tak ada konsep, dan tak ada usaha, maka engganlah kita ke kamar mandi mesjid kita. Pilih yang manakah kita ?

Wallahu’alam bishshowab !

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 278 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: